Foto : Abu Bakar Baasyir Dibebaskan, Dedi Mulyadi: Ini sikap kemanusiaan yang menghargai orang tua

PURWAKARTA, headlinejabar.com

Keputusan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang setuju membebaskan Abu Bakar Ba'asyir di Lembaga Pemasyarakaran (LP) Gunungsindur, Kabupaten Bogor harus diapresiasi. Kebijakan tersebut diambil sebagai sikap kemanusiaan terhadap seseorang yang sudah renta dan sakit.

Ketua DPD Golkar Jabar, Dedi Mulyadi menilai apa yang dilakukan kepala negara kepada narapidana kasus terorisme itu sangat bijak. Untuk itu, ia meminta kepada semua pihak agar bijak dan tidak melabeli keputusan ini oleh kepentingan politik.

"Kita niatkan saja, apa yang dilakukan Pak Jokowi kepada Pak Abu Bakar Ba'asyir adalah niat ikhlas. Jangan diembeli oleh sebuah kepentingan politik," katanya disela kunjungannya ke rumah Ketua Umum Golkar Airlangga Hartarto di Sukabumi, Sabtu (19/1/2019).

"Ini angin segar, seorang presiden memberi apresiasi dan penghargaan kepada orang tua yang sedang sakit. (Nantinya) setelah beliau (Abu Nakar Ba'asyir) bisa istirahat di rumah bersama keluarga. Sikap kemanusiaan ini patut mendapat penghormatan dari semua pihak tanpa melihat aspek kasusnya," lanjutnya.

Ia menyadari bahwa di tahun politik ini, kebijakan tersebut bisa memancing polemik. Terlebih, Jokowi kerap diserang dan dicitrakan dengan kasus kriminalisasi ulama.

"Kalau bicara stigma yang dibangun itu kan Jokowi mengkriminalisasi ulama. Nah, pertanyaannya, ulama yang mana yang dikriminalisasi. Pak Abu Bakar Ba'asyir inj diproses hukum saat zaman SBY (Susilo Bambang Yudhoyono). Tapi pak SBY tidak dikasih stigma kriminalisasi ulama," imbuhnya.

Dengan kata lain, pria yang akrab disapa Demil ini berpendapat bahwa kriminalisasi ulama itu adalah sebuah stigma politik. Jika terus dibiarkan, maka tidak akan baik sekaligus berdampak buruk terhadap citra islam itu sendiri.

"Kalau namanya ulama ya ulamanya agama. Pilihan politik adalah hal yang berbeda," ucapnya.

Diberitakan sebelumnya, Presiden Jokowi menyetujui Abu Bakar Ba'asyir dibebaskan dari lembaga pemsyarakatan dengan alasan kemanusiaan.

"Ya yang pertama memang alasan kemanusiaan. Artinya beliau kan sudah sepuh, ya pertimbangannya kemanusiaan. Di Lapas juga sakit-sakitan," kata Jokowi Ponpes Darul Arqam, Kabupaten Garut, Jawa Barat, Kamis (18/1).

Jokowi menjelaskan, sebetulnya wacana pembebasan Ba'asyir sudah sangat lama. Dia mengakui salah satu juru runding pembebasan ini adalah Yusril Ihza Mahendra.

"Ini pertimbangan yang panjang. Pertimbangan dari sisi keamanan dengan Kapolri, dengan pakar, terakhir dengan Pak Yusril. Tapi prosesnya nanti dengan Kapolri. Nanti yang lebih detail tanyakan ke Kapolri," tambah Jokowi. (rls/eka)

Terpopuler