Kunjungi Kampung Tajur, Pelajar Kharisma Darussalam Diajak Cintai Alam

Foto: Bupati Purwakarta H Dedi Mulyadi SH saat memberikan sambutan di Kampung Tajur terhadap ratusan Pelajar Kharisma Darussalam Cikampek

PURWAKARTA, HeadlineJabar.com
Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi mengajak ratusan pelajar Sekolah Islam Terpadu Kharisma Darussalam Cikampek yang notabene lahir dari daerah urban atau perkotaan untuk lebih menghargai alam. Menurutnya, orang utara dalam hal ini Karawang sejahtera karena masyarakat selatan apik memelihara alam.

“Bayangkan jika pohon-pohon di gunung habis ditebang. Orang Karawang dan sekitarnya akan kekurangan air. Dan dampak dari penebangan pohon akan terjadi banyak musibah, semisal longsor dan banjir bandang,” ungkapnya.

Bupati Dedi juga berpesan, banyak kesalahan dan kebiasaan yang tidak cocok dilakukan oleh masyarakat selatan maupun utara. Penduduk wilayah dingin di Purwakarta memiliki angka struk paling tinggi karena kebiasaan memakan ikan asin. Padahal, hal tersebut tidak cocok dilakukan masyarakat yang tinggal dipegunungan. Termasuk, Dedi menegaskan tidak boleh satupun orang melakukan tindakan perusakan gunung.

“Masyarakat yang tinggal di gunung tidak boleh memakan ikan asin. Karena garam diciptakan dilaut bukan di gunung. Gunung sudah menyediakan asam yang seharusnya menjadi bahan konsumsi masyarakat yang tinggal di dalamnya. Karena di gunung sudah ada ikan mujair,” pungkas Dedi.

Pesan itu disampaikan Dedi saat menyambangi ratusan pelajar Sekolah Islam Terpadu Kharisma Darussalam Cikampek mengikuti Workshop Grakhada di Kampung Tajur Kecamatan Wanayasa, sejak Rabu 30 Desember 2015 sampai Sabtu 2 Januari 2016. Kegiatan edukasi tersebut dalam rangka mengenalkan peserta didik tingkat SD sampai SMP lebih mengenal alam.

Pengelola Sekolah Islam Terpadu Kharisma Darussalam Cikampek H Endang Suhendar menyebutkan, kurang lebih 4 hari 3 malam pelajar diajak mengenal alam pegunungan. Dengan diajak langsung mengenal alam, pelajar mendapat banyak wawasan baru yang belum di dapat di kelas. Usai mengunjungi Kampung Tajur, Endang menilai tempat tersebut cocok menjadi kampung wisata edukasi bukan hanya kampung wisata.

“Selama belajar di kelas, anak didik tidak diajarkan hal-hal yang bersifat wawasan kealaman. Sampai kapanpun anak tidak akan mendapatkan ilmu bagaimana mengelola alam dengan baik. Di Kampung Tajur ini anak diajak belajar dengan cara melihat dan merasakan keindahan alam,” ujar Endang.

Dilanjutkan, semua pelajar yang ikut serta sebanyak 300 orang terdiri dari siswa siswi boarding school, atau pelajar yang tinggal di asrama. Mereka menginap selama waktu libur bersama guru dan orang tua masing-masing. Adapun yang diajak untuk belajar di Kampung Tajur, merupakan pelajar SD kelas 5 sampai SMP kelas 9 Sekolah Islam Terpadu Kharisma Darussalam Cikampek.

“Bertadabur dengan alam, dan ini kali pertamanya kami mengunjungi Kampung Tajur. Namun, karena anak belajar di alam langsung, banyak kendala yang datang. Semisal hujan, cuaca dingin, dan tidak bisa diprediksi kondisi selanjutnya. Tantangan ini kami jadikan sebagai ajang pembelajaran bagi pelajar. Kalau ingin belajar di sini harus nginap, tanpa nginap tidak akan sempurna,” jelas Endang.(aga)