Kompak Jabarkan Pendidikan Karakter Perkotaan dan Perdesaan

 

Foto : Kepala SMPN 4 Purwakarta Ade Kartini SPd (kiri) bersama Kepsek SMPN 2 Maniis Yati Rosmiati SPd (kanan)  Kompak Jabarkan Pendidikan Karakter Perkotaan dan Perdesaan

PURWAKARTA, headlinejabar.com

Kepala Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 4 Purwakarta Ade Kartini SPd berjuang menjabarkan nilai-nilai pendidikan berkarakter tingkat perkotaan. Antara lain, sebagai pendidik di daerah urban, SMPN 4 dihadapkan dengan hedonisme dan konsumtif peserta didik.

 

 

Namun, materi kearifan lokal diakuinya sudah sempurna dalam mengajarkan kecekatan bagi peserta didik. Waktu pulang sekolah yang lebih awal yakni pukul 11.25 WIB, pelajar diarahkan untuk memiliki kegiatan edukasi. Pelajar kota diarahkan untuk lebih memiliki karakter skill keterampilan yang mumpuni.

“Pendidikan itu tidak instan, hasilnya baru terasa paling dekat lima tahun mendatang. Intinya kami berupaya pelajar kota bisa cageur, bageur, pinter dan singer. Kami mendukung pendidikan berkarakter ini lebih banyak diporsikan untuk pelajar kota lebih memiliki kecekatan,” jelas Kepsek Ade.

Menurutnya, Peraturan Bupati (Perbup) No 69 Tahun 2015 tentang Penerapan Nilai Dasar Pendidikan Karakter lebih strategis dalam mengarahkan anak. Sama dengan semua sekolah yang lain, SMPN 4 Purwakarta memaksimalkan strategi pendidikan istimewa melalui program masuk lebih pagi, sekolah tanpa jajan, membawa bekal dari rumah dan membawa tas daur ulang.

“Kami mendorong anak lebih mandiri. Dan kami perkuat dengan puluhan eskul yang dimiliki. Dari bahasa kami perkuat dengan bahasa Inggris, one week one book one resume. Ini pendidikan bahasa agar anak mampu bersaing saat selesai studi,” ungkapnya.

Sementara, Kepala SMPN 2 Maniis Yati Rosmiati SPd mengakui, penjabaran pendidikan karakter di desa porsinya lebih banyak dan berbeda dengan perkotaan. Salah satunya, usai pulang sekolah pelajar sudah biasa pergi ke sawah, membantu orang tua dan beternak.

“Sudah terbiasa, di Maniis kultur lingkungannya masih alami, banyak kebun, sawah dan binatang ternaknya. Anak anak kami terbiasa saat diajak untuk berkarakter perdesaan. Meskipun banyak kendala, mereka sudah terbiasa dengan karakter yang dimiliki,” ungkap Yati.

Dibenarkan Yati, mendidik tidak semudah yang dikatakan. Sebabnya, sekolah harus menjadi tempat penyalur dan mengarahkan minat karakter anak didik. Meski perubahan perilaku peserta didik di desa sudah banyak dipengaruhi kemajuan zaman, program pendidikan karakter Purwakarta menjawab kegalauan dunia pendidikan tingkat desa.

“Kalau di desa anak lebih mudah diarahkan. Karena karakternya sudah sama dengan tuntutan sekolah. Mereka sudah terbiasa dengan budaya bangun pagi, berkreativitas dan membantu orang tua di rumah,” pungkas Yati.(dzi)