Dedi Mulyadi : Bangun Smart City, Perlu Ada Integrasi Desa dan Kota

 

Foto : Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi dalam seminar Financing Smart City Development, yang diselenggarakan oleh Pusat Kajian Pembangunan Insfrastruktur Berkelanjutan Universtitas Indonesia (UI) di Ballroom Crowne Plaza Hotel Jakarta, Kamis (28/1/2016).

JAKARTAheadlinejabar.com

Ada filosofi yang mengatakan bahwa kampung harus tetap dihormati dan dihargai. Akan tetapi sekarang ini suda terjadi pergeseran, dimana degradasi intelektual sosial di perdesaan dikarenakan jomplangnya antara pembangunan kota dan desa. Apabila dibiarkan, pembangunan smart city yang ramai dibicarakan hanya akan menghasilkan kapitalisme semata.

Hal itu disampaikan oleh Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi dalam seminar Financing Smart City Development, yang diselenggarakan oleh Pusat Kajian Pembangunan Insfrastruktur Berkelanjutan Universtitas Indonesia (UI) di Ballroom Crowne Plaza Hotel Jakarta, Kamis (28/1/2016).

Bupati Dedi menilai, ada titik lemah yang sekarang ini tetap belum bisa dihapuskan. Dimana, apabila ada dasar pemikiran dari kampung tetap tidak dianggap, berbeda apabila pemikiran dari luar.

“Apa yang menjadi titik lemah dan tetap terjadi, adalah kampung tidak menjadi nilai akademis akibat munculnya dari kampung. Maka dianggap tidak wah, padahal peletakan cara filosofis bangsa ini berasal dari desa,” tuturnya.

Sedangkan terkait akan konsep smart city yang mulai ramai dibicarakan, Dedi menuturkan apabila tidak ada penyelarasan antara perkampungan dan perkotaan maka smart city akan percuma.

“Kondisi sosial perkampungan saat ini mulai berubah jadi untuk membangun smart city perlu adanya integrasi antara kampung dan kota. Karena apabila hanya membangun perkotaan saya kira smart city akan percuma sehingga perlu penyeimbangan dalam berbagai hal,” ungkapnya.

Dedi pun memberikan kiat-kiatnya dalam menyeimbangkan kampung dan kota yaitu dengan penataan perkotaan harus diimbangi pedesaan yang kholistik, modern tapi tidak meninggalkan identitas keaslian desa tersebut.

“Misalnya anak-anak desa disekolahkan, tapi anak tersebut jangan jadi pegawai hotel di kota. Tapi bisa di rumahnya di desa desa, lalu orang kota tak perlu membangun vila di puncak atau di Lembang yang hanya diisi oleh pembantunya. Tapi cukup datang ke rumah-rumah di desa mereka menginap,” papar Dedi.

Di kampung, lanjut Dedi, tamu dilayani baik oleh anak-anak desa. Jika tamunya berasal dari luar negeri, anak-anak desa harus pintar berbahasa Inggris. Selain hal itu, dibangunkan infrastruktur yang menunjang, maka di situ timbul kekeluargaan rasa persaudaraan antar masyarakat desa dan kota. “Ini yang saya sebut dengan smart city intergrasi desa dan kota tanpa meninggalkan kekholistikannya,” ungkapnya.(dzi)