Purwakarta Istimewa, Bangun Rasa Sosial Melalu Aktivasi e-Perelek

Foto : Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi memasangkan perelek di Rumah Dinasnya, Senin (1/2/2016)

PURWAKARTA, headlinejabar.com
Pernah mendengar beas perelek? Bagi yang tinggal di perdesaan Jawa Barat,  tentu tak asing mendengar istilah ini. beas atau beras yang dikumpulkan sepekan sekali dan dikumpulkan oleh salah seorang petugas yang berkeliling memanggul karung dari rumah ke rumah.

Bak pepatah orang bijak, “sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit”. Konsep beas perelek pun sama. Masyarakat diharuskan menyumbangkan berasnya untuk dimasukkan ke sebuah gelas air mineral. Dengan penuh kesadaran dan kesabaran, petugas menarik beas perelek dari rumah ke rumah  setiap waktu yang ditentukan dalam seminggu atau sebulan oleh petugas yang ditunjuk.

Contoh kecil, dari 4 RT yang ada di RW 05 misalkan, diperoleh 50 liter beras setiap minggunya, sehingga dalam sebulan mendapatkan 200 liter beras. Tidak sampai disitu, beras yang diperolah, bisa dijual ke warga yang kurang mampu di bawah harga pasar, atau dibagikan secara gratis. Dalam sebulan uang hasil penjualan beas perelek tersebut bisa digunakan untuk kepentingan warga terkait.

Dengan konsep beas perelek, melatih jiwa masyarakat untuk berkorban dari hal yang paling kecil, meningkatkan kebersamaan, sehingga percepatan perkembangan kemajuan masyarakat perdesaan lebih maju, dengan tetap mempertahankan nilai kebersamaan dan semangat gotong royong.

Di Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat,  untuk meningkatkan rasa sosial serta saling membantu di antara masyarakat, terutama dalam lingkungan tetangga, Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi menyerukan setiap RT harus menyediakan perelek diisi di dalam bambu.

Hal itu diungkapkannya ketika ditemui di ruang kerjanya, Senin (1/2/2016). Bupati Dedi mengungkapkan, imbauan menyediakan perelek atau iuran beras, dimaksudkan agar setiap warga yang membutuhkan bisa dibantu terlebih dahulu.

“Kita aktifkan kembali perelek atau iuran beras,dalam bentuk bambu,setiap hari bisa diisi setengah gelas dengan beras, dan nanti para RT harus mengumpulkan, dan setiap hari didata karena akan dalam bentuk digitalisasi datanya dan kita namakan e-Perelek,” tuturnya.

Pengaktifan perelek sendiri bukan merupakan hal yang baru, karena perelek sejak dulu sudah ada di tengah masyarakat Sunda pada khususnya. Pemkab Purwakarta sendiri akan buatkan aturan mainnya seputar kebijakan e-Perelek ini.

“Kita ingin aktifkan kembali perelek,dahulu perelek sangat membantu dan kita sudah intruksikan keseluruh Desa melalui sms center bahkan bisa berbentuk perbup.”, ungkapnya.

Dedi pun menuturkan untuk mengisi perelek,bisa diisi dengan setengah  gelas setiap harinya. “Seiklhasnya saja,yang penting terisi,kita ingin menggiatkan lagi apa yang sudah dilakukan karena tujuan dari perelek itu baik,untuk membantu yang kesusahan sehingga terbangun adanya subsidi beras,” ujarnya.(adv)


 

Editor : Dicky Zulkifly