Lahan Pesawahan Kota Sukabumi Diasuransikan

Foto : Petani tengah menggarap sawah. Di Kota Sukabumi, lahan pesawahan milik petani akan diasuransikan untuk menjamin keselamatan ekonomi para petani pada saat menemui musibah gagal panen

SUKABUMI, headlinejabar.com

Lahan pesawahan di Kota Sukabumi, mulai diasuransikan oleh pemerintah. Upaya itu sebagai bentuk perlindungan bagi para petani. Satu di antaranya ketika mengalami gagal panen.

 “Program ini dari pemerintah pusat. Tujuannya untuk memberikan perlindungan kepada para petani, terutama ketika lahan sawah mereka mengalami gagal panen, seperti kekeringan atau kena serangan organisme pengganggu tanaman (OPT),” kata Sekretaris Dinas Pertanian, Perikanan dan Ketahanan Pangan Kota Sukabumi Ate Rahmat, belum lama ini.

 Tahap pertama, asuransi diberikan kepada para petani yang tergabung di 10 kelompok tani dengan luasan lahan 94 hektare. Target asuransi itu lebih kepada lahan persawahan, bukan kepada personal para petani.

 “Di Kota Sukabumi ditargetkan bisa mengasuransikan seluas 500 hektare lahan sawah. Tahap awal baru 94 hektare milik petani yang tergabung dalam 10 kelompok tani,” tuturnya.

 Belum semuanya lahan persawahan yang ditargetkan bisa diasuransikan, kata Ate, lantaran sosialisasi program tersebut terlalu mepet. Pihaknya optimis tahun ini bisa mencapai target mengasuransikan 500 hektare lahan persawahan atau 100 persen.

 Besaran premi yang dibayarkan para petani relatif murah, hanya Rp180 ribu setiap kali musim panen. Namun, karena program tersebut berasal dari pemerintah pusat, maka ada subsidi pembayaran premi.

 “Petani hanya membayar 30 persen saja atau sekitar Rp63.000. Sisanya ada subsidi atau ditanggung pemerintah,” sebutnya.

 Secara teknis ada kriteria lahan sawah yang memenuhi syarat diasuransikan. Nantinya, nilai pertanggungan klaim ketika lahan sawah mengalami gagal panen sekitar Rp6 juta.

 “Kita kerja sama dengan asuransi Jasindo. Jadi, para petani tidak perlu khawatir jika lahan sawahnya mengalami gagal panen. Mereka akan mendapatkan uang pertanggungan,” katanya.

 Ate tak memungkiri permasalahan terbesar dalam sektor pertanian berkaitan dengan kondisi alam. Selama ini, kondisi alam sulit diprediksi. “Misalnya saja seperti bencana El Nino belum lama ini. Kita sulit memprediksikannya. Belum lagi OPT yang biasanya menyerang saat pergantian musim. Makanya, para petani menyambut baik adanya luncuran asuransi lahan sawah ini,” ujarnya.

 Musim tanam di Kota Sukabumi berjalan normal. Hanya saja tak dilakukan serentak. “Karena itu, di Kota Sukabumi itu tidak ada istilah panen raya, karena saat musim tanam dan musim panen tidak pernah serentak. Makanya, saat musim kekeringan dampaknya tidak terlalu besar. Apalagi ditunjang pasokan air yang relatif masih bagus, meskipun bukan daerah subur,” pungkasnya.(rie)