Mantan Terpidana Terorisme, Bicara di Hadapan Ratusan Pelajar Purwakarta

Foto : Agus Marshal (40) seorang mantan terpidana kasus terorisme asal Desa Cibening Kecamatan Bungursari Kabupaten Purwakarta saat membagikan pengalamannya kepada para siswa SMA se-Purwakarta dalam Sekolah Ideologi, Kamis (28/1/2016) di Aula Janaka Purwakarta.

PURWAKARTAheadlinejabar.com

Untuk berbagi pengalaman serta lebih selektif dalam menerima informasi terutama radikalisme, Pemkab Purwakarta mendatangkan Agus Marshal (40) seorang mantan terpidana kasus terorisme asal Desa Cibening Kecamatan Bungursari Kabupaten Purwakarta.

Agus berkesempatan membagikan pengalamannya kepada para siswa SMA se-Purwakarta dalam Sekolah Ideologi, Kamis (28/1/2016) di Aula Janaka Purwakarta. Dengan Didatangkannya Agus Marshal bertujuan untuk berbagi pengalaman kehidupannya sebagai mantan terpidana terorisme.

Agus menuturkan, sebuah pengalaman baru ketika harus berbagi pengalaman dengan para generasi muda. “Disini saya akan berbagi pengalaman berangkat dari ideologi dan sejarah ideologi dimana setiap manusia memiliki ideologi dan idealisme,” ujarnya.

Agus juga mengingatkan pentingnya filterisasi ketika mendapatkan sebuah ideologi agar tidak terjebak dalam radikalisme. “Tinggal bagaimana kita mengikuti pikiran siapa,tujuannya apa dan dasarnya apa,” tuturnya.

Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi menilai soal kehadiran Agus Marshal sebagai pembicara di hadapan ratusan pelajar. Dedi beranggapan, Agus diundang untuk membagikan pengalamannya kepada generasi muda, agar mereka lebih memahami serta mampu memfilter hal-hal yang baru didapatkannya.

“Tujuannya agar siswa tahu bagaimana pengalaman agus ini,jadi siswa bisa memfilterisasi apa yang baru didapatkannua,terutama faham-faham yang bersifat radikalisme,” ujarnya.

Selain itu Dedi juga menambahkan selain Agus,didatangkan juga dalam sekolah ideologi tersebut mantan Rektor UIN Syarih Hidayattulah Jakarta Prof. Azyumardu Azra, serta Saraswati Putri Ketua prodi Jurusan Ilmu Filsafat UI.

“Kita ingin ajarkan kepada para siswa bahwa Purwakarta merupakan rumah yang berplural,boleh siapapun datang kesini tanpa harus membedakan suku,bahasa dan budaya yang terpenting membangun kedamaian dan rasa persaudaraan sehingga kita hadirkan tokoh-tokoh yang berkompeten,” tuturnya.

Sedangkan menurut saraswati putri, Ketua Jurusan Ilmu Filsafat UI,menuturkan bahwa pancasila merupakan ideologi bangsa yang dibangun untuk menyatukan berbagai suku dan budaya yang tersebar dinusantara. “Kita jangan lupa ketika semua orang membicarakan kearifan lokal,karena dari kearifan lokal inilah lahir pancasila,” ungkapnya.

Bahkan ditanya akan sekolah ideologi ini, Saras menuturkan apa yang dilakukan pemkab purwakarta patut diapresiasi. “Kita apresiasi bagaimana pemerintah memberikan suplemen tambahan kepada siswa akan pentingnya hidup kebersamaan saling menghargai dan ini dasar mencegah radikalisme,” ujarnya.(jem)