Peredaran Ayam Tiren Terus Diawasi

Sekda Kota Sukabumi DR HMN Hanafie Zain

SUKABUMI, HeadlineJabar.com
Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Kota Sukabumi, Jawa Barat, akan lebih meningkatkan pengawasan potensi terjadinya peredaran daging ayam mati kemaren (tiren) menyusulnya mahalnya harga daging ayam potong saat ini.

Namun, TPID memprediksikan terjadinya fluktuasi harga daging ayam potong tak akan berlangsung lama.

“Kita juga punya fungsi pengawasan. Nanti kita coba mengawasi lebih ketat lagi peredaran daging ayam potong, termasuk daging sapi,” kata Ketua TPID Kota Sukabumi Hanafie Zain di Balai Kota ¬†Sukabumi, Sabtu, (22/8/2015).

Hanya saja, lanjut Hanafie, TPID tak bisa melakukan intervensi pengendalian harga terhadap komoditas daging sapi atau daging ayam. Pasalnya, komoditas tersebut tidak tersedia stok, beda dengan komoditas beras yang selalu tersedia di Bulog.

“Kalau daging ayam atau daging sapi itu sulit diintervensi karena tak ada stok. Kalau beras kan stoknya tersedia di Bulog. Jadi ketika harga beras naik, kita bisa koordinasi dengan pihak Bulog untuk menjual beras murah,” bebernya.

Hanafie menyarankan kepada masyarakat agar sementara waktu mengalihkan konsumi daging ke ikan jika harganya masih tetap mahal. Terkecuali bagi konsumsi industri rumahan yang membutuhkan bahan-bahan dasar daging ayam atau daging sapi.

“Kami prediksikan fluktuasi harganya tak akan terlalu lama. Tak perlu emosional juga menyikapinya seperti melakukan aksi demo, toh tak menyelesaikan masalah,” tukasnya.¬†

Faktor naiknya harga daging ayam potong saat ini, menurut Hanafie, satu di antaranya akibat mahalnya bahan dasar pembuatan pakan, yakni jagung. Di saat nilai tukar Dollar Amerika saat ini bertengger di posisi hampir Rp14 ribu, harga pakan jelas melonjak karena hampir 70% bahan jagung masih diimpor.

“Mestinya, dari dulu pemerintah itu sudah konsentrasi untuk menanam jagung. Lahan dan petani kita banyak. Makanya, kesempatan ini dimanfaatkan mafia untuk mengambil keuntungan,” paparnya.

Sementara naiknya harga-harga sayuran, Hanafie melihatnya sebagai momentum insidentil. Pasalnya, kondisi tersebut berkaitan erat dengan kondisi cuaca.

Naiknya sejumlah harga komoditas sayuran sebetulnya lebih kepada faktor akibat musim kemarau. Nanti jika sudah memasuki musim hujan, harga-harga pasti akan turun lagi.

“Di Kota Sukabumi sendiri, tingkat daya beli masyarakat masih relatif bagus. Hanya saja mereka lebih memilih mencari barang substitusi ketika ada harga yang mahal,” pungkasnya.(rie/dzi)