Sejumlah Desa di Kecamatan Cicurug Sukabumi Krisis Air Bersih

Foto : Warga Kecamatan Cicurug Sukabumi krisis air bersih, Sumber, istimewa.

SUKABUMI, headlinejabar.com

Sejumlah desa di Kecamatan Cicurug Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, rawan krisis air bersih. Saat ini, warga yang tinggal di wilayah tersebut terpaksa harus memanfaatkan air sungai untuk kebutuhan sehari-hari ketika sumur mereka kering.

“Dari 12 desa dan satu kelurahan di Kecamatan Cicurug, ada dua desa yang terpantau langganan krisis air bersih, yakni Desa Kutajaya dan Desa Cisaat. Desa Kutajaya merupakan daerah berbatasan langsung dengan Kabupaten Bogor. Di Desa Nyangkowek juga sebagian ada yang mengalami krisis air bersih. Kalau desa lainnya relatif tak ada kendala apa-apa,” kata Camat Cicurug Agung Gunawan dihubungi headlinejabar.com, Kamis (25/2/2016).

Sebetulnya jika melihat kondisi geografis, sumber air di Kecamatan Cicurug cukup baik. Pasalnya, wilayah yang berbatasan dengan Kabupaten Bogor tersebut banyak dikelilingi daerah perbukitan dan pegunungan.

“Di Desa Purwasari dan Desa Nanggerang yang notabene berada di kawasan perbukitan, tentunya kalau soal air tak jadi kendala. Warga di sana banyak memanfaatkan air dari kawasan pegunungan. Kalau untuk akses air bersih dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Sukabumi memang agak sulit. Di Desa Purwasari hanya sebagian saja yang berlangganan PDAM,” tuturnya.

Kondisi di kedua desa tersebut akan semakin parah ketika terjadi musim kemarau panjang. Satu di antaranya ketika terjadi badai El Nino akhir tahun lalu. “Jangankan di daerah rawan krisis air bersih, di kantor kecamatan saja yang sangat subur air juga, mengalami kekeringan saat terjadi El Nino,” ujarnya. 

Salah satu daerah yang mengalami kesulitan akses air bersih berada di Kampung Warung Ceuri RT 01 dan RT 02, Desa Nyangkowek. Hampir puluhan tahun sekitar 200 kepala keluarga (KK) di sana memanfaatkan air dari aliran Sungai Cicatih. Air tersebut dialirkan melalui parit untuk disalurkan ke lahan persawahan dan kolam milik warga.

“Dari kolam itu airnya kami gunakan untuk mandi dan keperluan lainnya,” kata Husen (53) warga Kampung Ceuri RT 01.

Husen bersama warga lainnya terpaksa memanfaatkan air Sungai Cicatih tersebut lantaran tidak adanya akses air bersih meskipun terkadang mengalami iritasi kulit. Untuk memasang sambungan air bersih PDAM, Husen mengaku, biayanya terlalu besar. “Apalagi kebanyakan warga di sini pekerjaannya hanya buruh tani dan buruh cangkul,” tegasnya.

Tapi, sekarang warga di dua RT di Kampung Warung Ceuri itu sudah bisa mengakses air bersih berkat bantuan PT Tirta Investama (Aqua) Babakan Pari, Kecamatan Cidahu, Kabupaten Sukabumi. Penyediaan sarana itu mampu memenuhi kebutuhan air bersih bagi warga di dua RT.

“Sumber airnya berasal dari mata air Cisalada dengan kapasitas sebanyak 16 ribu liter. Dari sumber air itu kita transfer ke toren masing-masing berkapasitas 5.000 liter di RT 01 dan RT 02,” kata Kepala Pabrik PT Tirta Investama (Aqua) Babakan Pari Obrin Sualang di sela-sela penyerahan sarana air bersih di Kampung Warung Ceuri.

Hingga saat ini, Aqua sudah membantu menyediakan sarana air bersih di 30 titik. Diprioritaskan untuk membantu warga yang tinggal di sekitar pabrik, yakni di Kecamatan Cidahu dan Kecamatan Cicurug.

“Penyediaan sarana air bersih ini ada yang mengajukan, ada juga yang berdasarkan kajian. Intinya, kami ingin agar warga yang mengalami krisis air bersih bisa terakses,” sebutnya.

Selain untuk membantu akses air bersih, penyediaan sarana itu juga untuk mendorong kemandirian warga. Artinya, Aqua hanya memberikan fasilitas sarana dan prasarana saja. Ke depan, untuk pengelolaannya, warga yang nanti terjun langsung. “Sehingga nantinya warga bisa mandiri,” pungkasnya.(rir/dzi)