Korban DBD di Sukabumi Kembali Bertambah

 

Foto : Korban meninggal akibat DBD di Sukabumi bertambah menjadi tiga orang.

SUKABUMIheadlineJabar.com

Satu orang warga Kabupaten Sukabumi kembali meninggal akibat demam berdarah dengue (DBD). Korban meninggal bernama Siti Amelia (10) warga Kecamatan Cibadak Kabupaten Sukabumi Jawabarat. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten Sukabumi, dari Januari hingga Februari ini sudah ada tiga orang yang meninggal akibat DBD.

Kepala Seksi Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Sukabumi, Rika Mutiara mengatakan, selama Februari ini ada dua orang yang meninggal dunia. Namun hanya satu yang terbukti positif akibat terkena DBD. Sedangkan satu orang lagi yang merupakan Warga Kecamatan Nagrak, belum ada yang menyatakan DBD.” Warga Kecamatan Nagrak ini, belum ada kepastian dari labnya terkena DBD atau bukan. Jadi baru suspect,” ujarnya,kemarin.

Rika mengatakan, dari Januari hingga Februari ini tercatat sudah ada 54 orang yang menderita DBD. Bahkan kemungkinan bisa bertambah meningat musim penghujan masih berlangsung di Kabupaten Sukabumi.”Kalau dari data sementara baru 54 orang yang terkena DBD,” ucapnya.

Rika menambahkan, bertambahnya orang yang meninggal akibat DBD harus menjadi kewaspadaan bagi masyarakat Kabupaten Sukabumi. ” Meskipun jumlah orang yang terkena DBD di Kabupaten Sukabumi masih dikatakan sedikit dibanding daerah lain, namun tetap masyarakat harus waspada,” ungkapnya.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sukabumi, Didi Supardi mengatakan, sebagai bentuk pencegahan, saat ini lembaga yang dipimpinnya telah melakukan foging di Kecamatan Cibadak. Terutama di daerah yang tak jauh dari korban meninggal dunia akibat DBD.” Untuk membasmi jentik nyamuk, hari ini (kemarin) kami sudah melakukan foging di daerah  Cibadak,” paparnya.

Selain itu, lanjut Didi, pembasmian jentik nyamuk juga harus ada peran serta dari masyarakat. Sebab menurutnya, tidak mungkin dilakukan oleh Dinas Kesehatan sendiri. Apalagi di musim penghujan seperti saat ini.” Pembersihan jentik nyamuk ataupun kaleng yang tergenang air harus dilakukan oleh masyarakat. Minimal melakukan pencegahan dengan menguras tempat penampungan air, mengubur barang bekas dan menutup tempat penampungan air ,” pungkasnya. (rir)