Waspadai, Bahaya Obesitas bagi Anak

Foto : Arya Permana (10) penderita severe obesity ditangani 13 dokter spesialis RSHS. Berat badan normal Arya kurang dari 50 kg, namun saat ini beratnya mencapai 189,5 kg.(Istimewa)

DEPOK, headlinejabar.com

Fenomena obesitas pada anak saat ini seolah menjadi trend. Asupan makanan dengan kandungan protein, lemak, dan karbohidrat yang berlebihan membuat anak memiliki berat badan berlebih.

Kasus obesitas luar biasa sempat terjadi pada bocah asal Kabupaten Karawang, Jawa Barat dan Arya Permana dan Rizki asal Palembang, Sumatera Selatan.

Pakar Teknologi Pangan A&M Texas University Nur Mahmudi Ismail berpendapat, diperlukan kesabaran ekstra bagi orang tua untuk mendukung penuh diet anak secara disiplin.

Baca Juga  Pemrov Jabar Siapkan Vaksin Covid-19 Penyandang Disabilitas

“Penyebab utama orang gemuk adalah jumlah in dan out dari energi yang dikonsumsi tak seimbang. Artinya, energi yang masuk lebih besar dari yang dikeluarkan. Proses pengeluaran sehari-hari bervariasi, ada untuk tidur, duduk, berpikir, serta aktivitas lainnya. Berpikir, membaca, tanpa aktivitas fisik. Saat aktivitas energi tadi lebih kecil dari yang dimasukkan terjadi kelebihan,” jelas Nur Mahmudi yang juga mantan Walikota Depok ini.

Baca Juga  Sentra Vaksin Silih Tulungan, Lindungi Masyarakat di Kawasan Ekonomi

Orang tua wajib menyadari ketika bobot buah hati sudah melebihi tinggi badan. Hal itu menunjukkan ada gejala obesitas. Sang anak pun harus wajib berdiet.

“Istilah diet jangan dianggap sesuatu yang negatif. Setiap orang itu harus berdiet, bagaimana memberikan asupan yang tepat bagi anak. Seharusnya di Indonesia setiap label makanan ada komposisi yang mencantumkan satu hari berapa persen kalori,” ungkap dia.

Nur melihat apa yang terjadi pada bocah obesitas asal Karawang, Arya Permana dan Rizky merupakan contoh kelebihan ekstraordinari lemak dan protein. Ia meminta para orangtua untuk tidak berbangga diri melihat tubuh anaknya mengalami obesitas.

Baca Juga  Zona Risiko Diperbarui, Dua Daerah Jabar Berstatus Zona Merah

“Indeks masa tubuh harus betul-betul disosialisasikan ke masyarakat. Buat rumus yang mudah. Orang tua sering sampaikan anaknya nakal banget saja dijadikan cerita. Nakal saja disikapi dengan candaan, apalagi melihat anaknya gemuk. Kalau berat badan bagi orang tua sendiri belum jadi indikasi kesehatan. Para orang tua memandang anak gemuk lambang kesuburan, kemakmuran. Makmur dan segar itu kalau beratnya ideal,” tutup Nur.(*)

Editor : Dicky Zulkifly