Kereta Cepat Jadi ‘Jokowi’s New Toy’?

Foto : Presiden Jokowi (kiri) berbincang dengan Menteri BUMN Rini Soemarmo (kanan) dalam kereta api bawah tanah (subway) Beijing, Tiongkok, Kamis (26/3/2015). Sumber, istimewa Antara/Rini Utami
JAKARTA, headlinejabar.com
Politikus Partai Keadilan Sejahtera Fahri Hamzah menilai, Presiden Joko Widodo terburu-buru meresmikan kereta cepat Jakarta-Bandung. Wakil Ketua DPR itu mengaku cemas proyek kereta cepat bisa berakhir seperti mobil Esemka, yang dulu sempat populer diunggulkan Jokowi semasa masih menjadi Wali Kota Solo.  Proyek mobil itu mangkrak setelah tak lolos uji emisi.

“Jangan sampai high-speed train ini jadi Jokowi’s new toy, seperti yang tiga huruf ‘SMK’ itu,” kata Fahri Hamzah saat berbicara di diskusi publik bertajuk Stop Rencana Pembangunan Kereta Cepat Jakarta Bandung di Operation Room, gedung Nusantara Jakarta, Selasa (2/2/2016).

Fahri mengaku menyayangkan mengapa Presiden Jokowi buru-buru meresmikan proyek yang digagas Kementerian Badan Usaha Milik Negara, yang  bekerja sama dengan Cina.  Proyek itu, menurut Fahri, bermasalah karena Kementerian Perhubungan belum mengeluarkan izin pembangunan. Lebih dari 600 hektare tanah belum terbebaskan. Adapun Cina tiba-tiba menuntut jaminan dari pemerintah terkait dengan proyek itu.

Fahri meminta pemerintah tidak ragu membatalkan proyek kereta cepat Jakarta-Bandung karena proyek tersebut terbukti bermasalah. Tak perlu ragu membatalkan proyek itu meski sudah dicanangkan pembangunannya. Ia meminta Presiden Jokowi kembali ke visi pembangunan poros maritim sebagai prioritas nasional. “Di dalam isu kereta api cepat ada penyimpangan substantif dari cita-cita kesejahteraan yang awalnya dijanjikan. Saya meminta Presiden Jokowi insyaf, kembali kepada cita-cita yang membuat kita semua terpukau dengan ide cita-cita poros maritim,” kata Fahri.

Ia mengaku kagum dengan konsep pembangunan poros maritim sejak Jokowi kampanye sebelum menjadi presiden. Alasannya, ia memaparkan, sudah lama bangsa Indonesia lupa daratan dalam pembangunannya. “Nasihatnya sekarang diubah jadi lupa lautan, supaya orang ingat pesan Pak Jokowi. Jadi saya yakin, hanya dengan membangun laut dan kelautan kita, bangsa ini akan jadi bangsa besar,” ujarnya.

Selain itu, politikus Partai Keadilan Sejahtera itu juga berharap Presiden fokus kerja membangun Indonesia timur, seperti NTB, NTT, sampai Papua. Sebab, kata Fahri, melaksanakan pembangunan maritim Indonesia berarti melaksanakan pembangunan Indonesia timur dan daerah terbelakang.

Fahri mengaku akan mendukung bila pemerintah mau membangun tol laut, pelabuhan-pelabuhan, industri perikanan dan rumput laut, ketimbang membangun kereta api cepat Jakarta-Bandung. “Saya bukan saja mendukung, tapi terpukau dengan bayangan akan hasil-hasilnya,” terang dia.(tempo/red)