Lenzing Komitmen Dukung Presidensi G20

Dari kiri-kanan, Sri Aditia, President Director of PT SPV, Stephan Sielaff, CEO of Lenzing AG Sigit Indrayana, Corporate Affairs Manager of PT SPV Winston A. Mulyadi, Head of Commercial Textile, Lenzing Group SEA & Oceania.

PURWAKARTA, headlinejabar.com

Prinsip keberlanjutan atau sustainability kini semakin penting diterapkan dalam berbagai aspek kehidupan termasuk juga dalam menjalankan perusahaan dan dalam berbisnis.

Terlebih akibat situasi makroekonomi yang sedang berlangsung, keberlanjutan menjadi strategi perusahaan untuk menjadi semakin resilien terhadap berbagai tantangan.

Keberlanjutan juga menjadi salah satu agenda penting pemerintah dalam pelaksanaan presidensi G20 di Indonesia. Hal ini tercermin dalam salah satu pilar Presidensi G20 Indonesia yakni ‘memastikan pertumbuhan berkelanjutan dan inklusif’.

Memperhatikan hal ini, PT South Pacific Viscose (SPV) turut serta mendukung tujuan pemerintah yang ingin membangun pertumbuhan berkelanjutan melalui berbagai komitmen dan praktik bisnis yang mengedepankan prinsip-prinsip berkelanjutan.

Mulai dari proses produksi, produk yang dihasilkan, hingga lingkungan kerja, SPV terus berinovasi dalam mempraktikan prinsip berkelanjutan.

”Sebagai bagian dari Lenzing Group yang menerapkan best practices dalam sustainability, SPV juga memiliki komitmen dalam menerapkan best practices sustainability dalam mendorong penerapan sirkular ekonomi di Indonesia dan bisa berkontribusi bagi program pemerintah dalam menerapkan Net-Zero Emission pada tahun 2050,” jelas Presiden Direktur PT South Pacific Viscose, Sri Aditia.

Di tahun 2022 ini, SPV sudah menandatangani kerjasama dengan PLN terkait energi terbarukan. SPV dan PLN menandatangani perjanjian jual beli Renewable Energy Certificate (RCE). Hingga September 2022, SPV telah menjadi salah satu dari 233 perusahaan yang menunjukan komitmen terhadap energi terbarukan dari PLN.

Sertifikat energi baru terbarukan atau Renewable Energy Certificate (REC) merupakan atribut yang mempresentasikan setiap MWh listrik yang diproduksi dari pembangkit EBT. 1 Unit REC setara dengan 1 MWh yang dihasilkan dari pembangkit listrik energi terbarukan PLN yang telah didaftarkan pada APX.

REC sendiri memiliki manfaat sebagai opsi pengadaan konsumen untuk pemenuhan target penggunaan energi terbarukan yang transparan, diakui secara internasional dan tanpa mengeluarkan biaya investasi untuk pembangunan infrastruktur.

Selain itu, Lenzing yang merupakan induk perusahaan SPV sebagai pemasiok serat premium terdepan didunia berhasil mendapatkan penghargaan tertinggi Hot Button Ranking untuk yang ketiga kalinya dari Canopy, sebuah organisasi non-profit di Kanada. Hal ini membuktikan komitmen keberlanjutan Lenzing diseluruh dunia, termasuk juga di Indonesia.

Kedepannya, SPV juga berencana untuk terus menerapkan prinsip keberlanjutan dalam berbagai aktivitas perusahaan. Tidak hanya pada tahun 2022 ini saja, pada tahun 2023 mendatang SPV juga sudah memiliki rencana untuk bisa memproduksi serat premium bermerek LENZING™ ECOVERO™ secara mandiri di Indonesia.

LENZING™ ECOVERO™ adalah merek serat premium Lenzing yang dibuat dari kayu yang bersertifikasi dan melalui proses produksi yang ramah terhadap lingkungan. Serat LENZING™ ECOVERO™ yaitu serat viscose atau rayon yang diproduksi dengan standar yang lebih tinggi dibanding dengan serat viscose dipasaran saat ini karena menggunakan proses produksi yang lebih ramah lingkungan, karbon emisi 50% lebih rendah dan dampak penggunaan air yang lebih sedikit serta telah disertifikasi oleh EU Ecolabel.

Serat LENZING™ ECOVERO™ ini dapat terurai secara hayati dan secara alami akan terurai kembali ke alam dalam waktu singkat, sebagaimana disertifikasi oleh TÜV AUSTRIA. LENZING™ ECOVERO™ rencananya akan mulai diproduksi juga oleh SPV di Indonesia pada Maret 2023.

“Lenzing menyadari bahwa di dunia dengan sumber daya alam yang terbatas, kelestarian lingkungan mengharuskan kita mengambil lebih sedikit dan hanya menggunakan sumber daya yang kita butuhkan, dan memanfaatkannya dengan efisiensi yang maksimum. Kami akan terus berfokus untuk menciptakan inovasi yang mampu membawa perubahan pada industri tekstil dan fashion,” kata Winston A. Mulyadi, Commercial Head  Southeast Asia and Oceania Regions PT. South Pacific Viscose.

SPV yakin bahwa melalui rencana untuk bisa memproduksi LENZING™ ECOVERO™ secara mandiri juga akan memberikan dampak positif bagi Indonesia dan mendorong ekspor tekstil Indonesia lebih jauh lagi.

“SPV memiliki kemampuan untuk memproduksi 323.000 ton viscose per tahun dimana sebagian besar produksi kami dijual melalui ekspor. Ketika nanti kami dapat memproduksi LENZING™ ECOVERO™ secara mandiri di Indonesia, kami tentu berharap bisa memenuhi permintaan pasar untuk eco-responsible viscose baik lokal maupun ekspor,” pungkas Sri Aditia.