Terkait Deretan Gempa, Pengelola Waduk Cirata dan Jatiluhur Diminta Jaga Keamanan Bendungan

Ilustrasi Sesar Cirata/istimewa/

PURWAKARTA, headlinejabar.com

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menginformasikan pada Minggu 13 November 2022 malam dan Senin 14 November 2022 dini hari telah terjadi tiga kali gempa di kawasan Waduk Cirata, Purwakarta, Jawa Barat.

Berdasarkan data WRS-BMKG, gempa tersebut masing-masing berkekuatan 4.1 magnitudo, 3.3 magnitudo dan 2.8 magnitudo diduga akibat aktivitas Sesar Cirata.

Terkait peristiwa ini, Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Purwakarta meminta PT PLN Nusantara Power UP Cirata dan Jasa Tirta II selaku pengelola Waduk Cirata dan Waduk Jatiluhur tak tinggal diam.

“Kami meminta dua pengelola waduk ini memastikan keamanan bendungan dan melakukan sejumlah mitigasi bencana gempa Sesar Cirata,” ucap Sekretaris Komisi III DPRD Purwakarta, Rifky Fauzi, Selasa 15 November 2022.

Seperti diketahui, gempa pertama di kawasan Waduk Cirata dirasakan pada Minggu 13 November 2022 sekitar pukul 22.41 WIB. Pusat gempa berada di darat dengan kedalaman 6 kilometer (KM) pada titik koordinat 6.73 Lintang Selatan (LS) dan 107.35 Bujur Timur (BT) atau 21 KM barat daya Kabupaten Purwakarta dengan kekuatan 4.1 magnitudo.

Gempa susulan terjadi pada Senin 14 November 2022 dini hari sekitar pukul 1.13 WIB. Pusat gempa berada di darat dengan kedalaman 7 KM pada titik koordinat 6.73 LS dan 107.32 BT atau 22 KM timur laut Kabupaten Cianjur dengan kekuatan 3.3 magnitudo.

Gempa selanjutnya terjadi pada Senin 14 November 2022 dini hari sekitar pukul 2.41 WIB. Pusat gempa berada di darat dengan kedalaman 5 KM pada titik koordinat 6.74 LS dan 107.35 BT atau 21 KM barat laut Kabupaten Bandung dengan kekuatan 2.8 magnitudo.

Warga khawatir ada gempa bumi susulan yang lebih besar dan berdapak pada jebolnya dua bendungan besar tersebut.

“Dalam waktu dekat Komisi III DPRD Purwakarta akan memanggil pengelola dua waduk yang ada di Purwakarta ini. Kami meminta agar penanggungjawab Waduk Cirata dan Waduk Jatiluhur tidak diam dan tentunya harus bisa menjelaskan kepada masyarakat soal keamanan bendungan,” ujar Rifky.

Penjelasan resmi itu dinilainya sangat penting, untuk menjawab keresahan masyarakat yang khatir adanya gempa susulan dan berdampak pada keberadaan Waduk Cirata dan Jatiluhur.

Selain itu, pengelola dua waduk ini juga harus memastikan keselamatan masyarakat, termasuk melakukan sejumlah mitigasi bencana soal dampak gempa yang diduga berasal dari Sesar Cirata.

“Jika memang dua bendungan itu jauh lebih aman sekalipun diguncang gempa yang besar, maka masyarakat harus tahu. Jangan sampai ada isu liar sehingga menimbulkan keresahan yang berlebihan. Apalagi di era digital seperti sekarang, masyarakat gampang terpropokasi dengan kabar hoax yang bisa dengan cepat menyebar,” ucap Rifky.

Waduk-waduk yang berada di pertahanan aktif itu antara lain Waduk Cirata dan Saguling di hulu, serta Waduk Jatiluhur di hilir, yang menyediakan energi untuk PLTA pemasok listrik jaringan interkoneksi Pulau Jawa-Bali.

Sementara itu, Waduk Cirata saat ini dikelola oleh PT PLN Nusantara Power UP Cirata, yang sebelumnya bernama PT PJB UP Cirata. Sementara Waduk Jatiluhur dikelola oleh Jasa Tirta II. Hingga berita ini ditulis belum ada tanggapan resmi dari pengola dua waduk tersebut.

Berdasarkan hasil penelitian Puslitbang Geologi, Sesar Cirata sebagai sesar paling aktif berada di sekitar Kabupaten Cianjur, Bandung Barat dan Purwakarta. Sesar ini tergolong rawan dan perlu diwaspadai.

Mendapat julukan “raksasa tidur”, Sesar Cirata ini berpeluang menimbulkan gempa bumi berkekuatan hingga 7 magnitudo dalam waktu 80 tahun.