HMI dan Intelektual Post-Cak Nur

Foto : Muhammad Shofa

“Saudara – saudara jangan melihat hari ini. Coba tunggu 10 tahun lagi. Pasti diskusi yang kita lakukan hari ini ada manfaatnya” (Mukti Ali).

Beberapa hari lalu, penulis diberi sebuah makalah oleh senior yang bergelut di dunia pers dan media massa. Makalah  tersebut ditulis oleh M.Dawam Rahardjo dan disampaikannya pada panggung orasi ilmiah Ahmad Wahib Award hasil kerjasama antara HMI Cabang Ciputat dengan Freedom Institute pada tanggal 20 Mei 2003. Makalah tipis dengan penyampaian bahasa tutur yang  mengasyikkan itu diberinya judul “Pembaruan Pemikiran Islam : Sebuah Catatan Pribadi”. 

Dalam makalah tersebut diterangkan bagaimana besarnya pengaruh forum-forum diskusi kecil dan buku-buku bacaan pada diri kader-kader HMI semasa itu. Ahmad Wahib misalnya. Dengan kelompok “Limited Group”nya, ia  begitu mewarnai festival pemikiran Islam di tanah air waktu. Di sisi yang lain, ada Djohan Effendi. Di luar HMI, sosok penganut Ahmadiyah ini bersama rekan-rekannya menyelenggarakan Sunday Morning Class, sebuah forum ceramah terbuka yang diikuti oleh jamaah Ahmadiyah. 

Tak bisa dipungkiri, pemikiran salah satu kelompok aliran dalam Islam ini begitu kuat memengaruhi pemikiran para bapak bangsa. Tjokroaminoto, Agus Salim, Sukarno tak luput pula pernah membaca buku-buku Ahmadiyah.  Tidaklah mengherankan kemudian, bila Sukarno dalam “Islam Sontoloyo”nya begitu keras mengkritik pola keberagamaan umat Islam yang cenderung tekstualis. Dan, penting diingat, meskipun para bapak bangsa itu membaca buku-buku Ahmadiyah, tak satupun dari mereka masuk menjadi anggota Ahmadiyah. Yang diambil hanyalah pola pemikirannya yang rasional, tajam dan terbuka.

Dawam Rahardjo sendiri, sebagaimana pengakuannya lewat makalah itu, begitu menggemari literature-literature Ahmadiyah karya Muhammad Ali, Bahrum Rangkuti, dan tafsir Al-Qur’an karya Bashiruddin Mahmud Ahmad, sosok yang dikemudian hari pernah menjadi Sekjen Kementerian Agama dan menjadi budayawan Islam yang begitu dihormati oleh berbagai kalangan.

Deretan panjang kaum intelektetual yang lahir dari rahim HMI sebenarnya sangatlah panjang dan banyak. Sularso dan Djoko Prasodjo bisa juga disodorkan di sini. Kedua nama itu mungkin terdengar asing di telinga kader HMI saat ini. Padahal keduanyalah konseptor dibalik lahirnya naskah yang dijadikan pedoman oleh HMI dalam training-training di masa lampau. Keduanyalah sosok dibelakang lahirnya naskah “Kepribadian HMI” yang menjadikan metode pendekatan sejarah sebagai cara untuk merumuskan ciri-ciri kepribadian HMI. Kelak, beberapa tahun kemudian, karena mungkin dirasa sudah tidak sesuai dengan konteks zamannya, naskah tersebut digantikan dengan konsep “Nilai-Nilai Dasar Perjuangan HMI” yang digurat oleh Nurcholish Madjid dengan menggunakan pendekatan normative dan teologis sebagai landasannya.

Di lingkungan HMI, Sularso pulalah yang memperkenalkan pemikiran dan gagasan Tjokroaminoto, Tan Malaka dan Sukiman Wirjosandjojo hingga kemudian gagasan para bapak bangsa itu membumi ke dalam dada kader HMI. Yang unik adalah Sudjoko Prasodjo. Bapak dari sosiolog Imam B. Prasodjo ini dikalangan HMI waktu itu dikenal dan mendapat julukan “Tan Malaka”nya HMI karena seringnya mengembara dan tiba-tiba muncul pada suatu kesempatan.

Satu hal yang bisa dipetik di sini adalah, naskah “Kepribadian HMI” tersebut mampu mengajak pola berpikir kader HMI menuju ke arah yang lebih liberal dan progresif karena dalam naskah tersebut berisi ajaran-ajaran tentang sosialisme, kebangsaan dan demokrasi. Dan, penulis berpikiran, sudah semestinya kader HMI mulai mencari naskah itu kemudian mempelajarinya kembali sebagai sebuah naskah sejarah ideology HMI.    

Nah, diusianya yang sudah menapaki angka 69 tahun ini, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) bisa dibilang tak muda lagi. Angka 69 tahun adalah usia yang selayaknya membuat kader yang berhimpun di dalamnya tidak lagi berlaku dan bersikap kekanak-kanakan. Membaca dan menganalisis persoalan kekinian haruslah dilakukan tanpa meninggalkan jejak-jejak pendahulu yang telah memberi warna bagi Himpunan ini.

Di tengah sikap elitis kader HMI saat ini, sudah semestinya HMI kembali bercermin pada proses perjalanannya di masa lampau sebagai upaya untuk menjawab tantangan zaman di masa kini. Kerasnya tantangan saat ini, tak bisa dijawab hanya dengan berdiam diri tanpa melakukan perubahan baik dari system training, pola perkaderan, serta materi yang termuat di dalamnya. Melainkan juga harus membekali setiap kader HMI dengan kemampuan dan skill yang mumpuni.

Harus diakui, pasca wafatnya Cak Nur, HMI kini mengalami krisis kaum intelektual. Semangat dan minat kader HMI saat ini lebih memfokuskan diri pada jalur structural politik yang ramai dengan tepuk tangan, pujian, dan hura-hura. Lembaga Pengembangan Profesi yang sebenarnya menjadi kunci saat ini untuk menjawab tantangan zaman, tak begitu dilirik bahkan dibiarkan mengalami kematian secara perlahan-lahan. Bila hal yang demikian terus menerus dibiarkan terjadi, sudah barang tentu HMI menjadi tak lagi menarik bagi kalangan mahasiswa baru yang hendak berproses di HMI.

Dari itu, pemangku kebijakan HMI yang berada di tingkatan mana pun selayaknya membaca sejarah kebesaran HMI di masa lampau, tentu sebagai bekal untuk menjawab tantangan di masa depan. Tak elok kiranya bila terus menerus bereuforia sejarah kebesaran masa lampau tanpa membaca factor-faktor di balik lahir dan munculnya kebesaran HMI di masa itu. 

Terakhir, sebagai penutup dari tulisan ini, penulis hanya mengingatkan bahwa kematangan sebuah organisasi bisa dilihat dari sejauh mana peran organisasi tersebut memberikan sumbangsih dan perannya dalam menyelesaikan persoalan umat dan bangsa, bukan ditentukan oleh kuantitas sumber daya kader yang begitu melimpah. Sebab, itu hanya akan menjadi kartu mati bila tak berbanding lurus  dengan kualitas intelektual kader yang berhimpun di dalamnya. Dirgahayu HMI-ku, HMI anda, HMI kita semua. Bahagia HMI, jayalah Kohati.

*Aktivis Bakornas LAPMI PB HMI.

(red)