Ponpes Al-Fath Sukabumi jadi Kajian LPM UI

Foto : LPM UI mewakili 18 propinsi lakukan Studi banding ke Pasantern
Dzikir Al-Fath, di Komplek Gading Permai, Kota Sukabumi

SUKABUMI, HeadlineJabar.com
Pasantren Dzikir Al-fath yang berlokasi di Komplek Gading Permai, Kota
Sukabumi, kedatangan 18 orang mahasiswa untuk mewakili provinsi yang ada di Indonesia. Rombongan dipimpin oleh lembaga pengabdian Masyarakat (LPM) Universitas Indonesia (UI) untuk mengadakan kajian study banding selama 2
hari. Kedatangan mereka adalah melakukan kajian, bagimana konsep lembaga pasantren bisa menerapkan kewirausahaan.

“Kedatangan Mereka ingin melakukan kajian bagiamana lembaga pasantren bisa berjalan dengan menerapkan kewirusahaan, Ponpes Al-fath menjadi pilihan menjadi kajian mereka,” Terang Pimpinan Popes Dzikir Al- fath Muhamad Fazar Laksana.

Konsep kewirausahaan yang digunakan Ponpes Al-fath, Lanjut Fajar,
berdasarkan penggalian yang bersumber dari Al-qur’an yaitu menggunakan Ekonomi Sodaqoh. Ilmu ini tidak ada pelajarannya di perguruan tinggi manapun karena yang dipelajari mengenai teori ekonomi kapitalis berkiblat ke barat ternyata salah kaprah yang melihat berhasilnya sebuah perusahaan dilihat dari Laba ruginya.

“Saya sekolah dari S1 – S3 tidak mendapati ilmu ekonomi ini, konsep Al-Qur’an padahal lebih baik yaitu dengan ekonomi sodaqoh uang menjadi produktif dan justru menghasilkan uang berlipat ganda,” jelas Fajar.

yang diterapkan Ponpes al- Fath ini, bagaimana bisa membantu santri tidak
mampu bisa belajar agama dan bersekolah sampai kejenjang S1 secara gratis. Ada berbagai puluhan jenis usaha yang ada di ponpes Al-Fath untuk mereka bisa berwirausaha baik dibidang pertanian maupun perdagangan.

“Ini yang akan di kaji Mereka, mereka langsung melihat dan bertanya kepada
para santri Al-Fat. apa saja yg dilakukan selama berada di Ponpes,” ungkapnya.

Walikota Sukabumi HM muraz, berterima kasih dan mendukung kegiatan nasional yang diadakan LPM UI, kegiatan ,kedatangan mereka ke al-Fath untuk kegiatan pelatihan fungsional perencanaan di Kementerian Agama.

“Saya kira konsep kewirausahaan ponpes Al-Fath patut menjadi percontohan pasantren lainnya,”
ujarnya usai mengahadiri acara tersebut.

Muraz menjelaskan, pasantren akan ketinggalan jika konsep yang digunakan hanya belajar agama saja setelah keluar hanya menjadi guru ngaji saja, sehingga ketika terjun kemasyarakat para ustadz tidak mempunyai bekal untuk mencari mata pencaharian, jadi antar keagamaan dan urusan keduniaan harus
diajarkan dipasantren.

“Harus ada pelajaran intrakurikurel diluar pasantren, paraktek tentang
berekonomi ini menjadi salah satu terobosan yang perlu didukung,”
pungkasnya.(rie)