Ruang Publik Purwakarta Wisata Edukatif Sejarah Sunda

Foto : Pelajar dan Tenaga Pengajar SD Alam Bogor saat Berkunjung ke Purwakarta

PURWAKARTA, HeadlineJabar.com
Pendopo Kabupaten Purwakarta, Rabu (21/10/2015) pagi tadi digeruduk siswa siswi kelas 4 sampai 6 SD Alam Bogor. Tetapi bukan dalam rangka berunjuk rasa melainkan unjukinformasi sejarah yang selama ini terukir dalam ornamen-ornamen taman di Kabupaten Purwakarta.

Sebut saja Taman Citra Resmi yang berada dil uar area Taman Sri Baduga Maha Raja Purwakarta (Situ Buleud, red) di dalamnya tersimpan nilai sejarah adiluhung tentang pembelaan seorang perempuan Sunda atas kehormatan dirinya.

Koordinator rombongan SD Alam Bogor, Anas Ardiansyah SPdI mengatakanapresiasi yang mendalam terhadap filosofi yang diterapkan dalam blueprint pembangunan di kabupaten terkecil kedua di Jawa Barat ini.

“Banyak hal yang dapat menjadi pelajaran dan inspirasi, begitu kami masuk gerbang kota, suasana bersih dan asri sangat terasa,” terang dia.

Nanyak yang bisa diambil pelajaran dari Purwakarta. Selain nilai filosofi, juga sejarah pembangunannya yang bisa diambil.

“Sebenarnya sehari saja tidak akan cukup untuk melakukan penggalian mendalam nilai-nilai sejarah Sunda yang menjadi filosofi pembangunan di Kabupaten Purwakarta, apa daya waktu kami terbatas, tapi untuk memperkenalkanpada anak-anak usia sekolah semoga waktu dua hari ini cukup,” lanjutnya

Purwakarta dipilih mereka karena sudah menjadi model dalam pembelajaran wisata edukatif. Terutama dalam pengenalan sejarahmelalui media digital.

“Purwakarta sudah menjadi role model pemerintahan yang mampu mewujudkan kearifan lokal dalam melaksanakan pembangunan,” tutur dia.

Selama berkegiatan di Kabupaten Purwakarta, pelajar SD Alam Bogor ini berkunjung ke Pendopo Purwakarta, Taman Pancawarna, Taman Maya Datar, Taman Citra Resmi, Taman Sri Baduga (Situ Buleud), Bale Panyawangan Diorama Tatar Sunda Purwakarta dan terakhir Pusat Kerajinan Keramik Plered yang terkenal sudah memiliki kualitas ekspor.

Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi SH mengungkapkan, ruang publik harus memiliki nilai filosofis dan jangan kosong. “Seharusnya memang seperti inilah ruang publik, ada nilai-nilai yang dapat mereka ambil ketika memasuki setiap sudutnya, bukan sekedar nongkrong habiskan waktu di ruang kosong,” tutur Bupati Dedi.(dzi)