Anne Ratna Mustika Jadi Ketua Golkar Perempuan Pertama di Purwakarta

Anne Ratna Mustika terpilih secara aklamasi sebagai Ketua DPD Golkar Purwakarta pada Musdalub di Kantor DPD Golkar Jawa Barat, Jalan Maskumambang, Kota Bandung, Sabtu 12 Agustus 2023.

PURWAKARTA, headlinejabar.com

Musyawarah Daerah Luar Biasa (Musdalub) Partai Golongan Karya (Golkar) Kabupaten Purwakarta selesai.

Musdalub mendaulat Anne Ratna Mustika sebagai Ketua DPD Golkar Purwakarta 2023-2025. Bupati Purwakarta ini, menang secara aklamasi.

Meski hanya meneruskan sisa jabatan ketua sebelumnya, Anne disebut sebagai ketua Golkar perempuan pertama di Purwakarta.

Rekam jejak politik mantan Mojang Purwakarta ini memang tak bisa dipandang sebelah mata. Usai resmi bercerai dari suaminya, Dedi Mulyadi pada Februari lalu, karir politik Anne tidak demikian surut.

Baca Juga  Soal Prediksi Caleg Terpilih, Hanura Purwakarta Tunggu Hasil Resmi KPU

Ia lantas menjadi politikus perempuan Golkar paling populer secara nasional berdasarkan survei internal partai berlambang pohon beringin itu.

“Terima kasih kepada seluruh kader dan jajaran pengurus partai baik itu PK, PD, para sesepuh Partai Golkar serta jajaran sayap partai, baik itu ormas pendiri maupun yang didirikan, yang telah mempercayakan kepemimpinan Partai Golkar Purwakarta kepada saya,” ucap Anne usai Musdalub Golkar Purwakarta di Kantor DPD Golkar Jawa Barat, Jalan Maskumambang, Kota Bandung, Sabtu 12 Agustus 2023.

Baca Juga  Bupati dan DPRD Purwakarta Sahkan Perda PPA 2022

Meski sisa jabatan sebagai Bupati Purwakarta tinggal menghitung hari, Anne tetap konsen berkontribusi untuk masyarakat. Demikian halnya, jika ke depan ia tidak terpilih kembali menjadi kepala daerah.

“Saya akan tetap tinggal, berbakti serta berkontribusi untuk masyarakat Purwakarta melalui Partai Golkar,” kata Anne.

Musdalub Golkar Purwakarta dinyatakan quorum dihadiri oleh 15 Pimpinan Kecamatan (PK) Partai Golkar Purwakarta serta ormas pendiri dan yang didirikan atau Hasta Karya.

Baca Juga  Rapat Banggar di DPRD Purwakarta Sempat Diwarnai Insiden Pengusiran Wartawan?