Menjadi Bidan itu Menyenangkan

Ulfah Patimah

SEMUA orang pasti memiliki cita-cita. Ada yang ingin menjadi polisi, dokter, bahkan menjadi presiden. Cita-cita itu bisa datang dari keinginan sendiri atau atas keinginan orang tua. Contohnya salah satu dara cantik asal Purwakarta ini. Berkarir di dunia yang bergelut dengan ibu hamil atas keinginan orang tuanya. Ulfah Patimah, atau biasa dipanggil Ulfah.

Meskipun waktu kecil tidak suka melihat darah dan takut melihat orang yang sedang melahirkan, namun setelah dijalani akhirnya menyenangkan dan tak seburuk apa yang di bayangkan.

“Sama sekali enggak ada keinginan menjadi bidan, karena waktu kecil kan aku takut kalau liat orang yang melahirkan, enggak suka kalau liat darah banyak. Sebenarnya kuliah bidan keinginan mamah aku. Awalnya gak mau tapi lama kelamaan dijalani dan akhirnya menyenangkan juga tak seburuk apa yang dibayangkan. Karena semua itu harus dijalanin dengan ikhlas,” ungkapnya.

Dara lulusan D3 kebidanan STIKES MH. Thamrin tahun 2014, mengaku sempat bercita-cita menjadi dokter. Tetapi setelah dipikir secara bijak, menjadi bidan itu lebih mulia dan menimbulkan rasa kebanggan tersendiri, apalagi jika membantu ibu melahirkan dengan selamat dan bayi pun sehat.

“Sebenernya sih ingin menjadi dokter, tetapi jadi bidan lebih menyenangkan, bisa menolong orang yang melahirkan, terkadang ada rasa bahagia dan bangga buat aku ketika berhasil menolong ibu melahirkan dengan selamat dan bayinya pun sehat,” tutur Ulfa.

Menjadi bidan yang mahir dan profesional adalah keinginan yang masih dalam proses pencapaian. Rencana sudah ada dalam genggaman hanya tinggal menunggu waktunya saja.

“Bagi saya D3 itu belum cukup, ada rencana ngelanjut S-1. Tetapi sekarang aku lebih ingin mencari pengalaman dulu. Pengalaman praktiknya jadi tidak hanya teori saja. Ya insya Allah kalau ada rezeki tahun depan bisa lanjut S1 kemudian S2 aamin,” harap gadis ini.

Menurut gadis yang lahir di Plered pada 6 Oktober 1993 ini, kesulitan menjadi seorang bidan adalah menurunkan angka kematian ibu serta bayi dan jika dalam kehidupan sehari-hari yaitu menyatukan pemikiran yang selama ini menjadi adat di masyarakat (mitos) ke dalam teori kebidanan.

“Kesulitan menjadi bidan sih menurunkan angka kematian ibu dan bayi. Tetapi kalau dlm ruang lingkup sehari hari ya menyatukan antara mitos-mitos orang terdahulu yang bertolak belakang sama teori. Misal orang hamil harus pakai gunting dan peniti biar gak di ganggu sama makhluk gaib katanya. Padahal kan secara teori tidak ada justru nanti takut nya gunting itu melukai dirinya sendiri,” tambahnya.

Motivasi ulfah untuk tetap bisa menjalankan profesi ini adalah berkat Orang Tua dan keluarganya yang selalu memberikan semangat. Dan ada lagi yaitu saudara Kakak Sepupunya. Meskipun terjun di karir yang berbeda. Tetapi ia mengajarkan arti kehidupan yang sesungguhnya.

“Orang tua penyemangat yang pertama. Karena tanpa mereka belum tentu aku bisa seperti skrg ini. Dan uwa aku yg semangat nya ga pernah hilang selalu memberi motivasi sampai aku bisa sprti ini. Dan tak lupa kakak sepupu aku, tetapi dia bukan bidan. Dia perawat. Awalnya sama meniti karir dari nol banget, malah sekarang udah punya klinik sndiri.

Dia kalau kerja gak milih milih. Apapun di lakukan. Terhadap orang pun gak milih-milih, mau kaya atau miskin tetap dia bantu, masalah status sosial bukan menjadi prioritas, kita tetap harus memberi pertolongan yg terbaik. Semua sama “Berikan yang terbaik” karena kita niat nya menolong orang,”

Sedikit saran dari ulfah, untuk siapa saja yang baru terjun ke Dunia Kebidanan atau masih dalam pendidikan. Tetap semangat dan jangan terbiasa menunda pekerjaan yang sekarang untuk dikerjakan. Jalani dengan sabar dan iklas dan jangan lupa untuk membantu sesama tanpa membedakan sosial.(aga)