Usia Renta, Mak Okoy Pilih Jadi Pemulung

Foto : Mak Okoy saat mencari nafkah untuk menutupi hidupnya dan cucunya

USIA boleh renta namun semangatnya tidak pantang surut untuk mencari nafkah, prinsipnya yang penting tidak mengemis kepada orang lain meski harus menjadi pemulung, begitulah sosok kehidupan sehari-hari Mak Okoy (75) panggilan akrabnya untuk memenuhi kebutuhan setiap harinya dengan memulung kertas bekas.

Mak okoy perempuan renta asal RT 04 RW 02 Kampung Cirendeu, Desa Girijaya, Kecamatan Nagrak, Sukabumi, Jawa Barat yang hidup bersama cucunya Kulsum (13) ketika dijumpai kamis (5/11/2015) sekitar pukul 11.45 WIB tengah asik menanak nasi didapur rumahnya yang kecil dan kumuh sambil menunggu kepulangan cucu kesayangannya.

‚ÄúSejak anak Ema Wawa Meninggal beberapa tahun silam, Ema hanya tinggal sama cucu. Meski Susah cari uang Mak gak mau kalau harus meminta-minta sama orang, mak malu kalau harus gitu,” lirih Mak Okoy.

Di usianya yang senja, Mak Okoy sebenarnya memiliki 3 cucu lainnya hasil pernikahan Wawa putri satu-satunya dengan Ata (52). Selepas putrinya meninggal, salah seorang cucunya yaitu Kulsum memilih tinggal dengan Mak Okoy sementara Ata menikah lagi.

“Emak juga pernah ditawarin tinggal bareng Ata menantu emak, tapi takut malah bikin repot. Makanya sekarang tinggal disini ditemani Kulsum,”
lanjutnya.

Meski setiap hari Mak Okoy harus berjalan kaki entah berapa jauhnya jaraknya untuk mencari botol atau kertas bekas untuk dijual,namun mak Okoy menjalaninya dengan ikhlas dan dari hasil memulungnya di gunakan untuk jajan cucunya dan membeli kebutuhan sehari-hari untuk dimasak.

“Pendapatannya tidak tentu, kumaha lobana we’ (gimana banyaknya aja) kadang 15 ribu kadang 20 ribu lumayan buat jajan cucu atau buat beli
beras,” akunya.

Mak Okoy sendiri kini tinggal di sebuah bangunan sempit berukuran 2,5 x 3 meter. Ruang tamu ia jadikan sekaligus ruang tidur bersama cucunya, sementara dapur hanya diberi batas dinding anyaman. Menurut sejumlah tetangga rumah tersebut dibangun diatas tanah Ata sang menantu, sementara bangunannya hasil patungan warga setempat.

Ketua RT 04 Ece Ajum mengaku malu dengan kondisi Mak Okoy yang memulung di usia senja dan tinggal di rumah yang sempit . Sebenarnya pihaknya pernah memfasilitasi Mak Okoy tinggal di rumah yang layak. Namun ia lebih memilih tinggal tak jauh dari rumah menantunya.

“Entah kenapa, dulu sempat dibangunkan rumah namun ia menolak tinggal disana. Mungkin beliau ini nggak mau sendiri dan ingin dekat dengan cucunya. Untuk makan sehari-hari warga bergantian memberikan bantuan, kadang berupa beras atau makanan sudah jadi,” terang Ajum.

Menurut Ajum, dirinya maupun masyarakat setempat sama sekali tidak mengacuhkan keberadaan Mak Okoy. “Kita bahu-membahu untuk perduli ke Mak Okoy, dengan sekemampuan kita. Karena mayoritas penduduk disinipun kebanyakan bekerja serabutan,” tandasnya.(rie)