Tahun Ini, Pemkab Purwakarta “Ditantang” Warga Benahi Pasar Rebo

Foto: Lokasi Pasar Rebo Purwakarta yang Dianggap Sumber Kemacetan

PURWAKARTA, headlinejabar.com
Pasar Rebo Purwakarta sejauh ini dianggap sebagai biang dari kemacetan yang terjadi di pusat Kota Purwakarta. Khususnya di bilangan Jl Kapten Kolonel (KK) Singawinata dan Jl Kapten Halim. Penyebabnya hilir mudik pedagang pasar, dan angkutan umum perkotaan yang parkir sembarangan memakai badan jalan.

Sejumlah pengguna jalan raya yang melintasi dan berkunjung ke Pasar Rebo mengeluhkan kondisi itu. Salah satunya Dede Kurnaefi (39), pengguna kendaraan kerap terjebak kemacetan saat melintasi Pasar Rebo. Menurutnya, Pasar Rebo sebagai pasar yang berada tepat di pusat kota, harus ditata dengan baik oleh pemerintah.

“Penyebabnya banyak kendaraan parkir sampai memakan badan jalan. Harusnya kawasan lalu lintas di Pasar Rebo ini lebih ditata lagi, jangan jadi sumber macet,” ujar Dede di Pasar Rebo Purwakarta.

Herman yang sering mengunjungi Pasar Rebo untuk sekedar mengantar dan berbelanja sering terjebak dengan sumber kemacetan. Menurutnya, Pasar Rebo satu-satunya pasar yang kumuh dari kawasan perkotaan Purwakarta yang terdapat empat pasar tradisional, yakni Pasar Jumat, Pasar Leuwi Panjang, Pasar Simpang dan Pasar Rebo.

“Yang paling lengkap di Pasar Rebo, tapi Pasar Rebo juga paling kumuh. Kalau pasar lainnya memang lebih baik dari Pasar Rebo, pasar ini juga paling mudah diakses dibanding pasar lainnya,” katanya. 

Ia menyayangkan pasar itu dibiarkan tak terurus hingga mengganggu kenyamanan kota. Apalagi, kekumuhan Pasar Rebo semakin menjadi kalau sudah turun hujan. Ia menilai Pemkab Purwakarta yang selama ini gencar mengubah wajah kota, namun menurutnya pemerintah tidak bisa berbuat banyak.

“Silahkan datang sendiri kalau hujan ke dalam pasar, makin kumuh dan tak terawat. Pemkab Purwakarta harus lebih berani membenahi Pasar Rebo,” ujar dia.

Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi sejak awal sudah memiliki konsep revitalisasi pasar itu dengan memindahkan pedagang Pasar Rebo ke Pasar Simpang, dengan maksud agar pasar itu tidak sekumuh sekarang. Meski begitu, ia membantah tidak berani melawan mereka yang menginginkan Pasar Rebo tetap kumuh.

“Tapi mungkin ada kelompok semacam organisasi masyarakat di sekitaran pasar yang tetap menginginkan pasar tetap kumuh dan jadi sumber kemacetan. Karena kami tidak mau ada bentrokan soal pemindahan pasar itu. Jadi kami tunggu waktu yang tepat untuk merevitalisasi pasar,” ujar Bupati Dedi belum lama ini.

Pemerintah menyayangkan organisasi masyarakat di sekitaran pasar itu yang terus memprovokasi pedagang agar tetap melawan pemerintah untuk tidak merevitalisasi pasar kumuh itu.

“Saya juga heran, kami siapkan tempat lebih layak, mereka masih ingin bertahan di tempat kumuh, padahal kita semua yakin bahwa kebersihan sebagian dari iman,” ujarnya.(jem)