Pendidikan Berkarakter, Mahakarya Kang Dedi untuk Purwakarta

Penulis : Hamzah Zaelani
Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Purwakarta 2015 – 2016
Tak dapat dipungkiri, sejak tahun 2008 Kabupaten Purwakarta dibawah kepemimpinan Kang Dedi mengalami perkembangan yang begitu cepat. Dari mulai pembangunan infrastruktur, pengentasan kemiskinan, kesehatan, hingga pendidikan guna meningkatkan kualitas sumber daya manusia di Purwakarta.
Dalam hal pendidikan, ada berbagai macam upaya nyata yang terus menerus ditingkatkan oleh Pemerintah Kabupaten Purwakarta selama ini agar di masa yang akan datang, sumber daya manusia di Purwakarta dapat menjadi seorang manusia yang terdidik, berbudi pekerti luhur, serta memiliki potensi dan keterampilan yang dapat bermanfaat bagi dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
Jika kita telisik dalam hal pembangunan infrastruktur pendidikan, sebagai penunjang untuk mencapai keberhasilan proses pendidikan, terjadi peningkatan jumlah sekolah antara tahun 2012 dan 2013. Dimana terjadi penambahan satu SLTA dan sembilan SMK dalam kurun waktu satu tahun. (“Purwakarta Dalam Angka 2014”)
Selain itu, salah satu upaya Pemerintah Kabupaten dalam pembangunan infrastruktur pendidikan belum lama ini ialah program “satu toilet untuk satu kelas”. Diawali sejak tahun 2014, program ini merupakan upaya Kang Dedi akibat banyaknya sekolah yang hanya memiliki satu hingga dua toilet untuk menampung ratusan pelajar. Sehingga, dengan program ini diharapkan para pelajar akan dibiasakan untuk hidup sehat sedini mungkin.
Masih banyak sebetulnya upaya – upaya yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Purwakarta dalam meningkatkan pendidikan di bidang infrastruktur. Akan tetapi, yang paling menarik dan sudah sepatutnya di apresiasi oleh kita semua ialah inovasi Kang Dedi dalam meningkatkan kualitas pendidikan di Purwakarta, dengan mengeluarkan konsep “Pendidikan Berkarakter”.
Konsep Pendidikan berkarakter yang dituangkan dalam Peraturan Bupati No. 69 tahun 2015 ini rasanya layak dikatakan sebagai “Mahakarya” Kang Dedi untuk Purwakarta. Bagaimana tidak, dalam naskah peraturan Bupati yang berjumlah 13 halaman itu, Kang Dedi merumuskan berbagai macam inovasi hingga pendidikan seperti apa yang selayaknya diberikan kepada pelajar Purwakarta selama 7 hari dalam satu minggu.
Ruang lingkup penyelenggaraan pendidikan berkarakter di Kabupaten Purwakarta ini meliputi rangkaian kegiatan pembinaan dan pengasuhan pelajar di dalam dan di luar sekolah pada jenjang pendidikan dasar dan menengah guna mengembangkan potensi diri, mental, spiritual, akhlak mulia, dan keterampilan yang diperlukan bagi dirinya, masyarakat, bangsa dan negaranya. 
Dalam pelaksanaannya, pendidikan berkarakter berpedoman pada nilai kesundaan yang diberi nama “7 Poe Atikan Pendidikan Purwakarta Istimewa”,  yang meliputi Senen “Ajeg Nusantara”, Salasa “Mapag di Buana”, Rebo “Maneuh di Sunda”, Kemis “Nyanding Wawangi”, Jumaah “Nyucikeun Diri”, dan Sabtu-Minggu “Betah di Imah”.
Senen “Ajeg Nusantara” terdiri dari dua buah kata, ajeg yang berarti tegak, dan Nusantara berarti hamparan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sehingga dapat diartikan bahwa pada point ini, diharapkan para pelajar dapat berdiri dengan tegak di bumi Nusantara guna menumbuhkan rasa kebangsaan dan cinta tanah air.
Kedua ialah Salasa “Mapag di Buana, merupakan sebuah kiasan yang mengartikan proses perjalanan di dunia Internasional. Dalam proses tersebut diharapkan para pelajar dapat memperluas berbagai macam wawasan yang ada di dunia, tanpa melupakan untuk mempersiapkan diri dalam menjemput peradaban dunia yang semakin modern ini.
Ketiga ialah Rebo “Maneuh di Sunda”, melalui konsep ini, diharapkan para pelajar dapat mengenal kultur serta potensi yang dimiliki oleh daerah, khususnya budaya sunda. Setelah pada hari senin dan selasa para pelajar diajak untuk mengenal Indonesia dan Dunia, pada hari ini mereka diajak untuk kembali pada jati dirinya sebagai orang sunda.
Selanjutnya ialah Kamis “Nyanding Wawangi”. Para pelajar yang sudah mengenal jati diri budayanya, membuka cakrawala nusantara, serta mengarungi dunia, kemudian pada hari ini diajak untuk naik pada tingkatan selanjutnya untuk hidup merdeka, belajar tanpa batas, serta diberikan ruang untuk berekspresi sesuai kemampuan yang dimiliki. Tentunya hal ini sangatlah diperlukan oleh para pelajar, agar mereka dapat membuka berbagai macam jendela ilmu sejak dini.
Setelah empat hari para pelajar diajak dan dikenalkan dengan berbagai macam kebutuhan duniawi, pada hari ini mereka diajak untuk mendekatkan diri kepada Illahi dengan konsep, Jumaah “Nyucikeun Diri”. Melalui konsep ini, diharapkan agar ada keseimbangan antara nilai estetik dengan nilai spiritualitas diri. Karena bagaimanapun, sejatinya kita semua merupakan makhluk yang percaya akan eksistensi Tuhan, dan tak akan pernah bisa berupaya tanpa kuasa sang Pencipta.
Setelah lima hari pelajar disibukkan dengan berbagai macam aktifitas di sekolah, mereka juga dibiasakan untuk mencintai rumah sebagai tempat bernaungnya bersama saudara dan keluarga dengan konsep Sabtu-Minggu “Betah di Imah”. Melalui gagasan ini, diharapkan para pelajar akan memiliki kecintaan terhadap saudara dan keluarganya, dengan dibiasakan untuk lebih sering berinteraksi bersama keluarga di rumah. Oleh karena itu, di hari Sabtu dan Minggu, mereka diliburkan dari aktifitas pembelajaran di sekolah.
Bukan hanya itu inovasi yang dilakukan oleh Kang Dedi dalam Pendidikan Berkarakter. Sesuai dengan yang tercantum dalam Peraturan Bupati, dirumuskan pula berapa lama waktu yang harus ditempuh oleh para pelajar selama di sekolah. 
Rumusan ini dibuat dengan adanya perbedaan antara pelajar di pedesaan dan perkotaan. Mengingat adanya perbedaan kultur kedua tempat tersebut. Para pelajar di pedesaan, diwajibkan masuk sekolah pada pukul 06.30 lalu pulang pada pukul 10.30. Sedangkan pelajar di perkotaan diwajibkan masuk pada pukul 07.00 dan pulang sekolah pada pukul 15.00.
Perbedaan ini diberikan tentunya bukan tanpa alasan. Pelajar di pedesaan yang pulang jauh lebih awal dibandingkan pelajar di perkotaan, memiliki kewajiban untuk membantu orang tuanya masing – masing baik berkebun, bertani, ataupun memelihara hewan ternak. 
Apabila ada pelajar yang memang didapati tidak memiliki kebun, sawah ataupun hewan ternak, Bupati Purwakarta mengintruksikan agar para Kepala Sekolah menetapkan kegiatan lain pada pelajar tersebut, sesuai dengan kondisi orang tuanya. Tak jarang juga, Kang Dedi memberikan bantuan hewan ternak bagi para pelajar yang kurang mampu agar mereka terbiasa untuk disiplin dan tanggung jawab dalam kesehariannya.
Masih banyak sekali inovasi – inovasi Kang Dedi dalam Konsep Pendidikan Berkarakter ini, sebut saja seperti larangan merokok, larangan membawa kendaraan bermotor, kewajiban puasa senin – kamis, kewajiban membawa makan dan minum dari rumah, serta hal lain yang sangat bermanfaat dalam membangun pelajar di Purwakarta.
Berdasarkan data, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di Kabupaten Purwakarta setiap tahunnya mengalami peningkatan. Hal ini merupakan data valid sebagai acuan dan bukti bahwa Kang Dedi telah berhasil meningkatkan pembangunan sumber daya manusia di Purwakarta. Oleh karena itu, sekali lagi saya katakan, rasanya tak berlebihan jika kita katakan bahwa Pendidikan Berkarakter ialah “mahakarya” Kang Dedi Mulyadi untuk Kabupaten Purwakarta.(**)