Profil

Bermodal Rp300 Ribu, Janda Lansia di Subang Hidupi Tiga Anak dengan Jualan Kerupuk

×

Bermodal Rp300 Ribu, Janda Lansia di Subang Hidupi Tiga Anak dengan Jualan Kerupuk

Sebarkan artikel ini

Foto : Isah, mampu menghidupi tiga orang anak dengan cara berjualan kerupuk.

SUBANG, headlinejabar.com

Dengan modal sebesar Rp300 ribu seorang janda lanjut usia bernama Isah, mampu menghidupi tiga orang anak dengan cara berjualan kerupuk di Kampung Karangsambung RT01 RW01 Desa Pasirbungur, Kecamatan Purwadadi, Subang.

Suami Isah (61) sudah meninggal sejak 2015 karena terserang penyakit asma. Namun, tanggung jawabnya sebagai pengganti kepala keluarga tidak diabaikan.

Baca Juga  Geulis - Kasep, Kota Bandung Punya Ako dan Amoi Hakka 2016

Kerupuk yang dijual Isah, terkadang tak laku semua. Hal ini tidak memutus semangat Isah untuk mencari nafkah demi keluarga.

“Jika tidak berjualan di usia yang sudah tidak muda lagi, untuk memenuhi kebutuhan dari mana. Suami sudah meninggal karena terserang penyakit asma sejak 2015, lalu,” kata Isah kepada headlinejabar.com, Kamis (5/4/2018).

Kerupuk yang ia jual hasil beli dari pabrik dengan harga Rp9.000 dalam satu kaleng ukuran sedang. Kemudian kerupuk itu dikemas dengan menggunakan plastik dan dijadikan sebanyak tiga bungkus plastik ukuran besar dan setiap bungkusnya dijual seharga Rp5.000.

Baca Juga  40 Tahun Mengabdi, Ruslan Subanda Purnabakti dari Birokrasi Purwakarta

“Dalam satu kaleng itu bisa menghasilkan keuntungan sebesar Rp6.000 selama sehari ia mampuh menjual sebanyak empat bungkus. Itu pun tidak menentu kadang kalau lagi sepi hanya terjual dua kantong plastik. Saya jualan sudah lima tahun, dalam sebulan rata-rata dapat keuntungan sekitar Rp180 ribu,” kata dia.

Beruntung dua anak perempuannya sudah menikah sehingga urusan hidup mereka, ditanggung suaminya. Dengan jualan kerupuk semacam ini ia berharap ada dermawan yang memberikan pinjaman modal dengan suku bunga rendah untuk mendongkrak usaha jualan krupuknya.

Baca Juga  Dedi Mulyadi Ajak Intelektual Budayakan Menulis, Dimulai Soal Kampung Halaman

Mengajukan pinjaman ke bank atau ke koperasi, sepertinya sudah tak kepikiran oleh Isah. “Selain tak memiliki jaminan suku bunganya juga sangat tinggi artinya tak mungkin terjangkau dengan hasil dagang semacam ini,” katanya.(SDY)