Dua Pekan Penurunan BBM, Transfortasi Massal Purwakarta Diuji

PURWAKARTA, headlinejabar.com
Dua pekan sudah, pemerintah meluncurkan kebijakan penurunan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi jenis premium dan solar. Kebijakan ini sebagaimana diingat, berlaku sejak ditetapkan 1 April 2016 lalu.
Pascakebijakan penurunan BBM subsidi, harga premumin turun dari Rp6.950 menjadi Rp6.450 per liter. Turun di kisaran Rp500 per liter. Solar dari Rp5.650 menjadi Rp5.150. Sementara minyak tanah tetap di harganya.
Penurunan harga BBM turut disambut dengan fenomena yang sama di beberapa sektor dan variabel perekonomian nasional. Penurunan berdampak pada harga pasar, transfortasi dan inflasi nasional.
Namun penurunan harga di sektor ekonomi pasar tidak semua daerah mendapat mulus. Semisal di Kota Depok, Jawa Barat, komoditas pokok masyarakat masih tertahan di harga yang sama.
Di Purwakarta, Jawa Barat, transfortasi massal diuji dengan mandegnya penurunan ongkos. Angkutan perkotaan (Angkot) misalnya, turun hanya sebesar Rp100, jauh dari apa yang diharapkan.
Berbeda dengan angkutan massal antardaerah, bus mengalami penurunan harga jauh lebih besar. Bus Warga Baru maupun Cahaya Baru rute Purwakarta – Rambutan – Kramat Jati Bogor yang awalnya Rp35.000 kini turun menjadi Rp30.000.
Sementara Angkot turun, hanya seratus. Harga ongkos umum Rp3.900 sementara pelajar tetap, Rp2.000. Penyebab penurunan minim ongkos Angkot disebabkan karena daya saing yang tinggi. Bahkan, saat ini Angkot di Purwakarta sepi penumpang.
“Kami pantau setiap Angkot yang lewat paling diisi tiga sampai lima penumpang. Para pengelola dan sopir Angkot juga terlihat mengeluh atas kondisi ini,” kata petugas Dishub Terminal Ciganea Junaedi, di Jatiluhur Purwakarta, Jumat (15/4/2016).
Berbeda dengan bus, mobilitas Angkot memang berjumlah lebih banyak. Sehingga persaingan yang ditimbulkan lebih tinggi. Termasuk adanya mobilisasi angkutan sewa milik perusahaan untuk antar jemput karyawan menjadi sebab tersendiri.
“Orang sekarang sudah berpikir ekonomis. Semuanya serba ingin efektif dan efisien. Ini terbukti, ternyata ojek itu masih digandrungi ketimbang Angkot. Ojek bisa masuk ke gang-gang, lebih cepat, dan tak ada ngetem,” terang dia
Termasuk harga kendaraan proibadi baik roda dua dan empat yang terjangkau, mengakitbatkan peralihan pilihan. Lebih baik memilih naik motor pribadi ketimbang naik Angkot.
“Dengan Rp6.000 saja sudah bisa pergi ke mana-mana. Sementara naik Angkot, uang segitu paling hanya cukup untuk satu rute tujuan,” papar Junaedi.(*)

Reporter /Editor : Dicky Zulkifly