Tes Kesehatan Calon Pasutri Cegah Berbagai Penyakit

Ist. Tes Kesetan

PURWAKARTA, HeadlineJabar.com
Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Purwakarta mengapresiasi program tes kesehatan bagi calon pasangan suami istri (Pasutri). KPA memandang, jika tes kesehatan calon Pasutri memiliki banyak manfaat.

Menurut aturan perkawinan, memang harus ditegaskan jika calon pengantin sehat secara jasmani dan rohani. Untuk mengetahui seseorang sedang dalam keadaan sehat atau sakit, salah satunya dengan dilakukan tes kesehatan medis.

“Calon pengantin diharuskan tes kesehatan. Maksudnya, agar nanti bisa terhindar dari berbagai penyakit menular. Khususnnya penanggulangan sedini mungkin dari penyakit bawaan semisal penyakit menular HIV/AIDS,  ataupun penyakit lain,” jelas Pengelola Program KPA Purwakarta, Wahyu Yulhaidir.

Tes kesehatan bagi calon Pasutri, sebelumnya dicanangkan oleh Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi. Tujuannya, agar pasca menikah Pasutri mampu hidup bahagia karena sehat jasmani dan rohaninya.

Dengan tes kesehatan sendiri calon Pasutri mengetahui historis kesehatan pasangannya. Hanya saja, kata Wahyu, masarakat sekarang kurang perhatian terhadap hal tersebut. Bahkan, belum menyeluruhnya persoalan komunikasi informasi dan edukasi tentang kesehatan reproduksi dan bahaya penyakit menular seksual dan HIV/AIDS di masyarakat, berdampak pada opini publik yang negatif.

“Kalaupun ini bisa berjalan maka yang akhirnya pencegahan dan penangulangan HIV/AIDS dan PMS bisa ditekan penularannya dan tidak ada lagi orang yang tertular penyakit tersebut,” ulasnya.

Diketahui, hingga April 2015 sebanyak 129 orang di Purwakarta menderita HIV/AIDS. Tiga kecamatan disebut-sebut paling banyak jumlah penederita HIV/AIDS.

KPA Purwakarta merilis penderita berdasarkan usia paling banyak. Diantaranya, pendetita dominan dari kalangan usia produktif antara 25 sampai 49 tahun. Dari klasifikasi usia sendiri, tiga penderita adalah balita yang usianya di bawah 1 tahun.

Sedangkan penderita HIV anak-anak usia 1-14 tahun sebanyak 6 orang. Usia remaja 15-19 tahun 4 orang, usia 20-24 tahun 10 orang. Yang paling dominan ialah penderita di usia produktif 25-49 tahun sebanyak 103 orang dan Lansia 3 orang. Secara keseluruhan jumlah penderita sudah sampai 129 orang, 82 orang laki-laki dan 47 perempuan.

Minimnya sosialisasi bahaya HIV/AIDS membuat sebagian orang mengabaikannya meski diakui Unesco memperkirakan jumlah korban yang terpapar HIV/AIDS sampai 1.290 orang.(dzi)