Disdik Purwakarta Panen Eco Enzyme, Setetes Air dari Surga

Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Purwakarta Dr Purwanto MPd saat memanen eco enzyme.

PURWAKARTA, headlinejabar.com

Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, kembali membuat inovasi dan gebrakan baru di dunia praktik akademik. Terbaru, Disdik Purwakarta berhasil memanen eco enzyme. Apa itu eco enzyme?

Eco enzyme adalah cairan yang diproduksi dari fermentasi sampah organik. Dari proses fermentasi ini, dihasilkan kandungan disinfektan karena kandungan alkohol dan senyawa kimia asam di dalamnya.

Pendiri Asosiasi Pertanian Organik Thailand Dr Rosukon Poompanvong menyebut, eco enzyme sebagai setetes air dari surga. Disebut demikian karena manfaatnya yang banyak.

Eco enzyme bisa dimanfaatkan sebagai penyanitasi tangan atau hand sanitizer, mengepel lantai atau desinfektan, bisa untuk penetral udara di ruangan memakai diffuser, membersihkan kolam air, kaca, permukaan perabot plastik, mencuci buah dan sayuran, dan masih banyak lagi.

“Eco enzyme juga bisa dijadikan obat penyembuh luka bakar dan gatal-gatal. Tapi, meski beraroma segar layaknya es buah, eco enzyme tidak boleh diminum,” kata Kepala Disdik Purwakarta Dr Purwanto MPd saat memanen eco enzyme, dilansir dari kanal Youtube Linuhung TV, Selasa (4/5/2021).

Bagaimana cara membuat eco enzyme?
Eco enzyme dibuat dari kulit buah-buahan seperti semangka, jeruk, pepaya, belimbing.

“Tiga bulan yang lalu, para petugas penjaga kebersihan di Dinas Pendidikan Purwakarta, berhasil membuat eco enzyme, dan hari ini sudah memasuki hari ke-90 atau tiga bulan waktu memanen. Bahan kulit buah-buahan ini diambil dari pasar induk,” ujar Purwanto.

Cara membuatnya cukup mudah. Kulit buah-buahan yang tadi disebutkan, dicampur dengan molase dan air. Perbandingannya satu liter molase, dicampur dengan 3 Kg kulit buah-buahan dan 10 liter air. Bahan eco enzyme ditunda selama 90 hari atau tiga bulan.

Bagi yang belum tahu apa itu molase, molase adalah ampas dari pembuatan gula pasir berbahan dasar tebu. Molase sendiri bisa didapat di toko-toko pertanian, harganya bervariasi mulai dari Rp20.000 perliter.

“Setelah diendapkan selama tiga bulan, eco enzyme sudah bisa dipanen. Airnya diambil dengan cara disaring. Sisa kulit buah-buahannya bisa dipakai pupuk organik sampai pengharum ruangan,” ujar Purwanto.

Sebelum memanen eco enzyme, jangan lupa, persiapkan terlebih dahulu peralatan yang dibutuhkan. Seperti corong, jerigen, ember bekas cat, saringan, dan gayung.

“Tiga bulan ke depan lagi, Disdik Purwakarta akan kembali memanen eco enzyme,” kata Purwanto.

Bagi Purwanto, pendidikan itu harus bisa memecahkan masalah-masalah kehidupan. Jangan sampai sampah itu, dianggap tidak bermanfaat.

“Sampah itu banyak manfaatnya. Sampah plastik bisa dibikin ecobrick, sampah organik semisal kulit buah bisa dijadikan eco enzyme,” ujarnya.

Dari tayangan video di Youtube Linuhung TV, Disdik Purwakarta berhasil membuat tiga ember komposter, empat ember poc cair (salah satu pupuk organik), dan delapan ember eco enzyme yang dibuat sejak tiga bulan yang lalu.

“Kita akan manfaatkan eco enzyme ini untuk keperluan di kantor. Kita berupaya merubah hal yang tidak berguna menjadi lebih bermanfaat melalui program pembuatan eco enzyme ini,” ujar Purwanto.(dik)