Inovasi Baru Disdik Purwakarta, Berhasil Kumpulkan 16,9 Ton Beras Perelek dengan Kanjut Kundang

berkah salah satu aktualisasi gerakan pendidikan karakter tujuh poe atikan istimewa di hari Kamis dengan tema nyanding wawangi.

PURWAKARTA, headlinejabar.com

Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, berhasil mengumpulkan 16,941 ton beras melalui program pengumpulan beas kaheman (berkah) atau lebih familier disebut beras perelek pada tanggal 28 Oktober 2021.

Kepala Disdik Purwakarta, Purwanto mengatakan, berkah salah satu aktualisasi gerakan pendidikan karakter tujuh poe atikan istimewa di hari Kamis dengan tema nyanding wawangi.

“Beras perelek yang terkumpul telah telah disalurkan langsung oleh peserta didik pada warga sekitar dengan jumlah sasaran 5.336 orang,” kata Purwanto, ditemui di SMPN 7 Purwakarta ketika mendampingi Bupati Purwakarta Anne Ratna Mustika, Kamis (28/10/2021).

Penyaluran berkah dilakukan langsung oleh peserta didik atas bimbingan para guru. Penerima bantuan adalah sesama peserta didik dan warga masyarakat sekitar sekolah yang layak dibantu.

“Ini bentuk pembelajaran aplikatif menumbuhkan nilai-nilai gotong royong, empati dan saling berbagi. Internalisasi nilai ini merupakan ikhtiar kongkrit yang terintegrasi dengan pembelajaran di tiap satuan pendidikan di Kabupaten Purwakarta,” kata Kang Ipung, begitu dia disapa.

Ada yang berbeda pada pengumpulan beras pada hari Kamis ini yakni adanya larangan dari kepala Dinas Pendidikan tidak boleh menggunakan plastik untuk membawa beras tersebut, melainkan harus menggunakan kantong dari kain yg dibuat sendiri oleh siswa yang biasa disebut kanjut kundang dalam bahasa Sunda.

“Berdasarkan amatan langsung di tiap sekolah, semua siswa SD dan SMP pada hari Kamis tadi semua serentak sudah menggunakan kanjut kundang dalam membawa beras pèrèlèk,” katanya.

Penggunaan kanjut kundang yang dibuat sendiri oleh siswa adalah merupakan bagian dari pendidikan karakter dalam menanamkan ketekunan, keuletan dan keterampilan diri.

“Penggunaan plastik kèrèsèk menurut Purwanto diyakini akan mencemari lingkungan dan ini tidak sesuai dengan prinsip-prinsip yang kita ajarkan pada pendidikan Tatanen di Balè Atikan,” ujarnya.

Bisa dibayangkan jumlah siswa SD dan SMP itu ada 136.999 jika semua membawa beras dengan plastik pada hari itu maka akan ada sampah plastik sebanyak itu maka silahkan jumlahkan dalam waktu satu bulan dan seterusnya.

“Kita ingin mendidik karakter dan memberikan manfaat pada sesama melalui beras pèrèlèk tapi caranya juga tidak boleh bertentangan dengan kaidah kehidupan lingkungan,” kata Kang Ipung.

Pihak ingin anak-anak mempunyai kesadaran ekologis dengan menggunakan kanjut kundang bukan plastik dalam membawa beras pèrèlèk, pungkas Purwanto.

“Adapun rincian penerimaan beas kaheman dari staf dan pejabat disdik 30 kg, SD 13.395 kg, SMP 3.486 kg dan TK 30 kg dari data ini kalau dalam bentuk uang terkumpul 134.659.465 rupiah dan semuanya telah disalurkan kepada yang berhak menerima,” ujarnya.(dik)