Presiden: Kampus Jangan Dijadikan Penyebaran Paham Radikalime

Foto : Presiden Jokowi mengingatkan agar kampus tidak dijadikan tempat penyebaran paham radikal.

BALI, headlinejabar.com

Pesiden Joko Widodo mengingatkan kepada masyarakat untuk waspada terhadap upaya-upaya yang dapat memecah kesatuan bangsa, termasuk dalam hal keterbukaan informasi. Menurutnya, keterbukaan tersebut bisa saja memberi celah upaya infiltrasi ideologi yang tidak disadari dan jangan jadikan kampus dijadikan penyebaran paham radikalime.

“Sekarang ini telah terjadi infiltrasi ideologi yang ingin menggantikan Pancasila dan memecah belah kita. Keterbukaan tidak bisa kita hindari sehingga media sosial sangat terbuka bebas untuk infiltrasi yang tidak kita sadari,” ujar Presiden dalam sambutannya di acara penutupan Pertemuan Pimpinan Perguruan Tinggi se-Indonesia di Peninsula Island, Nusa Dua, Bali.

Menurutnya, infiltrasi tersebut dilakukan dengan beragam cara, salah satunya yang berkedok kebaikan berkemas kekinian. Akibatnya, ideologi Pancasila yang mempersatukan pun terlupakan.

“Banyak dari kita yang terbuai oleh itu sehingga kita lupa telah memiliki Pancasila. Tadi saya bangga telah dideklarasikan oleh pimpinan perguruan tinggi se-Indonesia yang bertekad untuk mempersatukan kita dalam NKRI, berpegang teguh dalam UUD 1945, dan menjaga Bhinneka Tunggal Ika,” ujarnya.

Di hadapan para pimpinan perguruan tinggi se-Indonesia, Presiden juga mengingatkan bahwa perguruan tinggi adalah sumber pengetahuan dan pencerahan. Menurutnya, akan sangat berbahaya bila perguruan tinggi ikut dimanfaatkan sebagai medan infiltrasi.

“Jangan sampai kampus-kampus menjadi lahan penyebaran ideologi anti-Pancasila, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika,” katanya.

Presiden mengajak seluruh masyarakat untuk selalu memupuk rasa persaudaraan antarsesama untuk menghentikan infiltrasi ideologi, radikalisme, dan terorisme. Sebab, hanya persatuan itulah alasan Indonesia masih mampu berdiri tegak hingga sekarang ini.

“Jangan sampai hasil kerja keras untuk anak cucu kita hancur karena terorisme dan radikalisme sehingga bangsa kita jadi bangsa yang mundur,” lanjutnya.

Presiden juga menyampaikan bahwa satu-satunya yang bisa menyelamatkan bangsa Indonesia dari hal tersebut adalah dengan merawat kebinekaan dan Pancasila. Untuk itu, pembinaan ideologi Pancasila sebagai pandangan hidup Bangsa Indonesia perlu dimasukkan baik ke dalam kurikulum pengajaran maupun kegiatan pendidikan nonformal lainnya.

“Tanamkan bahwa kebinekaan adalah sumber kekuatan bangsa Indonesia dan betapa kita ini sangat beragam. Negara ini kokoh menjadi satu dengan dasar Pancasila. Dengan bekerja bersama, marilah kita rawat NKRI. Perkuat Pancasila, tolak radikalisme dan terorisme,” tegasnya.

Dalam acara tersebut, Presiden turut didampingi oleh Sekretaris Kabinet Pramono Anung, Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi M. Nasir, serta Gubernur Bali I Made Mangku Pastika.