Mama Sempur, Penyiar Islam Bergaris Keturunan Keraton Banten

Foto : KH Ahmad Bakri Sempur
MAKAM KH Ahmad Bakri Sempur bin KH Tb Syeda bin KH Tb Arsyad Keraton Banten, berlokasi di Desa Sempur Kecamatan Plered, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat. Di antara penyiar Islam, nama KH Ahmad Bakri Sempur termasuk cukup populer. 
Terlebih untuk daerah Banten dan sekitarnya. Di Purwakarta, khususnya di kalangan ahlussunah waljamaah ia dikenal dengan sebutan Mama Sempur. Kemasyhuran nama KH Tb Ahmad Bakri Sempur merupakan sebuah gambaran akan kebesaran dan keleluasaan ilmu yang dimiliki oleh penyiar Islam ini.
Umat Nahdlatul Ulama (NU) cukup menghormati jasa para ulama terdahulu. Di Bulan Hijriah Dzulqoidah setiap tahunnya, umat NU dari berbagai daerah mengunjungi makam kiai yang masih memiliki garis keturunan dari Keraton Banten, dengan mengambil garis KH Tb Arsyad dari keraton Banten.
Mama Sempur, semasa hidupnya dikenal sebagai seorang penyiar yang memiliki wawasan luas dengan ketinggian ilmunya menyebar hingga pelosok tanah Jawa.
Mama Sempur adalah nama yang sudah sangat melekat dan dikenal di kalangan masyarakat Purwakarta. Ini disampaikan oleh Mama Dudus, seorang putra sekaligus generasi penerus dari Mama Sempur. Tidak begitu sulit untuk menemukan rumah Mama Dudus. Alamat yang pasti yakni Kampung Cibolang, RT 01 RW 01, Desa Cibogogirang, Kecamatan Plered, Purwakarta, Jawa Barat. 
Di kampung yang jauh dari keramaian itulah keturunan langsung Mama Sempur bermukim dengan keluarganya. Keterbukaan dan familier dengan sedikit aroma magis bisa dirasakan bagi siapa saja yang mengunjungi pendiaman keturunan sang kiai. 
Terlebih kediaman ini juga yang selalu ramai dikunjungi oleh para peziarah yang ingin ngalap karomah dari kesucian dan kebersihan hati Mama Sempur. Seperti dituturkan Mama Dudus, nama Mama Sempur ini sangat melekat di hati masyarakat setempat. Keluasan ilmunya itu tercermin dari besarnya kharisma yang dimilikinya. 
Hingga saat ini nama Mama Sempur masih sangat dihormati sebagai guru yang berpengaruh dalam dunia pesantren. “Bahkan di tatar Jawa Barat ia telah menjadi salah satu mata rantai penghubung keilmuan salaf untuk dekade ini,” ucap Mama Dudus.
Keberadaan Pondok pesantren Salafiyah yang berada di Desa Sempur, Kecamatan Plered yang lokasinya menjorok beberapa meter dari jalan raya Sempur menjadikan pesantren tersebut di zamannya menjadi tempat yang sangat strategis.
Pondok tersebut dahulu kerap dijadikan tempat pertemuan para kiyayi dan tokoh masyarakat ketika akan melawan musuh seperti Belanda. 
Para pejuang Islam tatkala merasa aman bila berada di pondok itu. Apalagi dengan letaknya yang agak tersembunyi sehingga luput dari perhatian bangsa kolonial.
Tahun 1975, Mama Sempur wafat di usianya yang sudah tidak lagi muda. Namun karena kebesarannya, banyak orang berlomba datang ke makam Mama Sempur yang sebagian besarnya untuk berziarah dan mengharap keberkahan.
Sementara berkah lain dari kehadiran Mama Sempur bagi masyarakat sekitarnya adalah setiap tahunnya di areal pemakamannya selalu digelar acara haulan atau peringatan tahun atas meninggalnya.
Setiap menjelang tanggal yang telah ditentukan yakni akhir Dzulkaidah, masyarakat di Sekitar Sempur dengan sendirinya selalu mendapat keuntungan. Terutama dalam pengelolaan kios yang selalu siap disewa oleh para perantau yang ingin ikut mencari nafkah dengan berdagang di ruas jalan menuju lokasi haulan.(*)

Reporter /Editor : Dicky Zulkifly