Ramadhan

Dedi Mulyadi : Kalau Ulama Dakwah Seperti Tukang Sapu Tentu Lebih Efektif

×

Dedi Mulyadi : Kalau Ulama Dakwah Seperti Tukang Sapu Tentu Lebih Efektif

Sebarkan artikel ini

PURWAKARTA, headlinejabar.com

Hari terakhir kerja dimanfaatkan oleh Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi untuk berbuka puasa bersama dengan para Tenaga Harian Lepas (THL) pada Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, Jumat (1/7/2016) di Taman Maya Datar Purwakarta.

Para tukang sapu dan petugas pengolah sampah ini terlihat mulai berkumpul sejak pukul 17.00 WIB. Mereka datang dengan mengenakan pakaian bebas rapi ke taman yang secara bahasa memiliki arti “Derajat Ketinggian yang Sama Rata” tersebut.

Tanpa menyampaikan kata sambutan, bupati yang akrab disapa Kang Dedi ini tanpa ragu tampak berbaur dengan para tukang sapu yang digaji oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Purwakarta sebesar Rp2,3 juta per bulan ini. Dalam obrolan santai bersama mereka, Dedi menyinggung soal dakwah ulama yang seharusnya dibarengi dengan pengamalan langsung dalam kehidupan sebagaimana para tukang sapu bekerja.

Baca Juga  Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi Kultum di Masjid Agung Baing Yusuf Purwakarta

“Kalau ulama berdakwah seperti para tukang sapu tentu akan lebih efektif. Lihat kalau tukang sapu bekerja, gak banyak omong tapi pekerjaannya selesai. Selama ini kan kita lebih banyak melihat dakwah itu berbasis retorika di atas podium. Sehingga dakwahnya temporer, tidak manunggal bersama masyarakat,” jelas Dedi.

Dedi mengaku saat mengaji ketika remaja di lingkungan rumahnya, dia dikenalkan oleh kiai, ada tiga macam cara berdakwah yang menurutnya harus dilakukan secara terpola. Ketiga metode tersebut adalah bil hikmah (kebijaksanaan kehidupan), bil mauidzatil hasanah (perkataan yang baik) dan bil mujaadalah billati hiya ahsan (berdebat dengan metode yang terbaik).

Baca Juga  Kang Dedi Menyapa Yatim Bekasi : "Jangan Pernah Berkecil Hati"

“Kita sudah kehilangan cara berdakwah yang saya sebutkan diawal. Padahal oleh Alquran sendiri itu disebut pertama kali sebelum metode lain disebutkan. Metode bil hikmah atau bil haal seharusnya menjadi prioritas. Ulama memberi contoh, ini loh cara hidup yang baik dan bijak itu,” kata Dedi.

Dedi sempat menyatakan kesiapannya membuat Indeks Da’wah bagi Ulama di Purwakarta. Perhitungan indeks tersebut akan dilakukan berdasarkan kesuksesan seorang ulama mengubah karakter buruk seseorang menjadi lebih baik. Kalau perlu, masih menurut Dedi, Ia akan membuat anggaran khusus bagi ulama yang telah berhasil membimbing warga Purwakarta untuk mengerjakan kebaikan.

Baca Juga  Ramadan, Ridwan Kamil Rekomendir Sekolah Gelar Kegiatan keagamaan

“Kami siap menghitungnya dengan Indeks, misalnya saja seorang ulama berhasil membimbing seorang preman yang sering berbuat onar menjadi lebih berguna bagi masyarakat sekitarnya. Kami siapkan anggarannya nanti sebagai reward karena ulama tersebut sudah turut serta menjadikan kehidupan sosial masyarakat Purwakarta menjadi lebih baik,” pungkas Dedi.(*)


Editor : Dicky Zulkifly