Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi Kultum di Masjid Agung Baing Yusuf Purwakarta

Ajak Jamaah, Jadikan Ramadan Ajang Perenungan Diri

PURWAKARTA, headlinejabar.com

Pada kesempatan salat qiyamul lail (Tarawih, red) malam kedua Ramadan 1437 H, Senin (6/6/2016) Jamaah Masjid Agung Baing Yusuf Purwakarta dikejutkan dengan kehadiran Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi di sela pelaksanaan ibadah mereka. Kesempatan ini lantas tak disia-siakan pihak Dewan Kemakmuran (DKM) Masjid Agung Purwakarta, menunjuk Bupati Dedi untuk menyampaikan kuliah tujuh menit (Kultum) kepada jamaah.

Memang, biasanya Kultum di Masjid Agung Purwakarta dilakukan sebelum salat Tarawih berjamaah, oleh pengurus DKM. Namun karena pihak DKM masjid yang didirikan oleh Raden Haji Muhammad Yusuf ini melihat kehadiran Kang Dedi, sontak kesempatan tausiah diberikan kepadanya. Orang nomor satu di Purwakarta ini menyampaikan tausiah nyentrik dengan menggunakan pakaian khas Sunda, meskipun dalam salat.

Baca Juga  Tarawih Keliling, Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi Bawa Gerobak Makanan. Hasilnya, Masjid pun Penuh

Dalam tausiah singkatnya, Dedi mengajak agar menjadikan Ramadan sebagai momen perenungan diri. Dedi yang sejak remaja selalu mengisi tausiah di masjid kampung ini menekankan agar sesama umat Islam bahkan sesama manusia tidak boleh saling menyalahkan karena perbedaan pandangan dalam cara beragama.

“Sudah seharusnya dalam bulan yang suci ini kita lebih banyak melihat ke dalam diri kita, bukan keluar diri kita. Sehingga hasil perenungan itu dapat menjadi mutiara-mutiara hikmah untuk kita sendiri agar kita mampu menjadi insan yang fitri. Semoga saja,” kata Dedi diamini seluruh jamaah yang hadir.

Jamaah terdiri dari masyarakat Purwakarta bahkan ada pula yang berasal dari Cianjur dan Bekasi. Dedi juga mengajak seluruh jamaah agar melakukan peningkatan kualitas dan kuantitas ibadah. Atas dasar inilah ia kemudian menterjemahkan peraturan agar seluruh pegawai di Purwakarta masuk kerja mulai jam 6.30 WIB dan pulang kerja jam 13.30 WIB.

Baca Juga  5000 Lebih Anak Yatim Penuhi Hotel BW Untuk Terima Santunan Dari AMPG

Tak berhenti sampai di situ, Dedi pun meliburkan seluruh pelajar selama menjalani ibadah bulan suci Ramadhan. “Ramadan kali ini juga harus menjadi ruang bagi kita agar meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah. Melalui orientasi ini saya tetapkan peraturan jam kerja selama bulan Ramadhan dan seluruh sekolah diliburkan,” imbau Dedi dalam mauidah hasanah yang dia sampaikan.

Bagi Bupati yang tengah menjalani masa jabatan untuk periode yang kedua ini, puasa bukan sekedar memikirkan menu makan sahur dan berbuka. Tetapi puasa harus dapat menjadikan diri kita memperoleh nilai tambah ketaqwaan dihadapan Allah.

Baca Juga  Dedi Mulyadi : Kalau Ulama Dakwah Seperti Tukang Sapu Tentu Lebih Efektif

Saat kebutuhan material saja yang dipikirkan selama puasa, maka yang terjadi adalah kenaikan harga bahan pokok karena permintaan terhadap komoditas pangan meningkat tajam. Beda halnya ketika seluruh masyarakat fokus menjalankan kontemplasi selama berpuasa.

“Kalau yang dipikirkan cuma makan dan minum maka bersiaplah kita menghadapi kenaikan harga barang. Maka nilai yang diajarkan oleh puasa adalah berhemat termasuk menghemat makanan dan minuman. Kalau ada lebih boleh disedekahkan kepada tetangga yang mengalami kekurangan,” katanya masih dalam tausiah.

Setelah memberikan tausiah, Dedi bersama seluruh jamaah yang lain menjalankan salat Tarawih di Masjid Agung Baing Yusuf Purwakarta sebanyak 23 rakaat.(*)


Editor : Dicky Zulkifly