Kemajuan Olah Raga Mesti Disikapi Bijak

Foto : Gegen Diosya SR SH

PURWAKARTA, HeadlineJabar.com Sebagai cabang olah raga (Cabor) olah raga tanah air, sepak bola cukup merakyat. Baik dari lapisan masyarakat bawah, menengah, sampai  kalangan eksekutif. Umumnya menyukai olah raga kulit bundar ini. Saking merakyatnya olah raga yang satu ini, mendapat pecinta fanatik paling besar di seluruh dunia.

Di Indonesia, tak sedikit ditemui banyak masyarakat membentuk komunitas pendukung fanatik tim daerah atau club kesayangan masing-masing. Salah satunya Viking Bobotoh Pendukung Persib Bandung, The Jack Mania Persija, Aremania Arema Malang. 

“Hal ini mencerminkan bahwa mereka selaku masyarakat pecinta bola sangat antusias mendkung setiap club asal daerahnya masing-masing. Hanya dilihat dari sisi etika, norma-norma kemanusiaan, dan aspek hukum,” papar Praktisi Olah Raga Purwakarta Gegen Diosya SR SH.

Perilaku pendukung bola atau supporter bola, dianggap Gegen, sudah banyak keluar dari koridor maksud dan tujuannya. Sehingga tidak jarang setiap ada event-event besar pertandingan sepak bola di Indonesia ulah para supporter ini sudh banyak melakukan pelanggaran-pelanggaran.

Bahkan melakukan suatu tindak pidana, yang berdmpak menjadikan rasa ketakutan masyarakat lainnya karen tindakan anarkis yang dilakukan oleh para supporter baik di dalam stadion atau di luar stadion.

“Bahkan sampai ke tempat-tempat yang mereka lalui menjadikan sasaran kebrutalan supporter. Pertanyaannya, apa yang mereka cari sebenarnya? Apakah mencintai sepak bola harus dilakukan dengan cara seperti itu? Ini harus menjadikan kajian kita semua,” ungkapnya.

Karena efek dari pada perilaku negatif supporter ini akan berdmpak kepada hilangnya pamor nama baik clubnya itu sendiri. 

“Dan sekaligus berpengaruh jelek kepada dunia sepak bola di NKRI. Jadi kata sportivitas tidak cukup diterapkan kepada para pemain bola saja tapi juga kepada para supporternya supaya menjaga sportivitas supporter dengan baik dan santun,” ulas dia.

Apa yang terjadi sekarang dengan banyak munculnya komunitas-komunitas supporter bola akhirnya telah banyak menjadikan permusuhan dan bercerai berai rasa persatuan kesatuan. 

“Yang terjadi sekarang pada saat akan dilakukan Grand Final Piala Presiden 2015 kemarin. Pemerintah dan aparat keamanan disibukan dengan antisipasi untuk pengamanan acra tersebut,” tilai Gegen. 

Hal yang prihatin, sampai menjadikan Jakarta sbagai Ibu Kota Negara menjadi siaga 1 hanya karena urusan bola. Hal ini jelas suatu bukti adanya permusuhan antara satu supporter dengan supporter lainnya.

“Untuk itu saya selaku Ketum Cabor Perbasi Kabupaten Purwakarta mengajak kepada seluruh supporter supaya bersikap dewasa, santun dan mengedepankan etika sosial kemasyarakatan, juga jangan bertindak anarkis hingga melanggar hukum. Tapi jalinlah rasa persahabatan, persaudaraan demi majunya dunia spak bola di tanah air,” pungkasnya.(dzi)