Kok Bisa, Wisata Jatiluhur Belum Bikin Pengunjung Nyaman

Jatiluhur Valley and Resort

PURWAKARTA, headlinejabar.com

Eksotika Waduk Ir Djuanda Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, sampai saat ini masih memiliki daya tarik yang luar biasa bagi para pelancong. Meski berada di kabupaten kecil, wisata Jatiluhur cukup jadi primadona.

Sejak awal Agustus kemarin, kawasan wisata di bendungan buatan yang luasnya mencapai 8.300 hektare itu sudah bisa kembali dinikmati, setelah sebelumnya sempat ditutup akibat pandemi Covid-19. Ditutupnya lokasi ini, bukan tanpa alasan. Tapi, hal itu lebih ke pencegahan penyebaran corona.

Sesaat setelah dibuka kembali, hampir setiap akhir pekan para pelancong berbondong-bondong untuk menikmati wisata di lokasi ini. Wajar saja, karena dengan ditutupnya obyek wisata ini beberapa bulan lalu, tentu mengundang kerinduan bagi warga yang hobi traveling.

Animar (34) warga Kabupaten Karawang mengaku, dirinya merupakan salah satu penikmat traveling. Waduk Jatiluhur, selama ini menjadi salah satu tujuan favoritnya.

Setiap akhir pekan, dia bersama keluarganya kerap menyempatkan diri untuk datang ke lokasi ini sekedar menikmati suasana alam yang asri nan eksotis di lokasi ini atau sekedar bermalam.

“Lokasi ini menjadi objek wisata favorit kami bersama keluarga. Suasana alamnya masih asri, bikin tenang,” ujar Animar.

Namun, pascadibuka kembali lokasi ini untuk wisatawan, suasananya menjadi sangat berbeda. Saat ini, banyak menjamur pedagang liar di sekitaran danau yang membuat suasana di lokasi menjadi tidak nyaman. Dirinya menyesalkan, karena seolah-olah ada pembiaran dari pihak pengelola.

“Saat ini suasananya berbeda. Lebih banyak pedagang liarnya ketimbang pengunjung. Bukannya risih sih, cuma jadi terlihat kumuh saja. Harusnya ditata atau gimana gitu biar rapi. Jangan dibiarkan. Supaya pengunjung bisa tetap nyaman,” ujar dia.

Selain itu, Animar mengaku, selama berwisata ke Jatiluhur pihaknya baru ‘ngeuh’ ternyata di lokasi itu juga banyak terdapat yang menyerupai warung remang-remang. Bahkan, saat jalan-jalan malam hari ke sekitar danau, di seberang jalan ada banyak warung dengan penerangan minim dan musik cukup keras.

“Saya coba masuk, ternyata warung itu juga menjual sejenis minuman keras. Ada juga beberapa wanita berpakaian seksi. Kata warga sekitar sih memang ada sejenis tempat karaoke gitu. Tapi gak tahu persis juga,” jelas dia.

Sebagai pengunjung, dirinya hanya berharap supaya lokasi wisata yang sudah sangat terkenal ini bisa ditata lebih baik lagi. Jangan sampai, pengunjung yang datang malah menjadi tidak nyaman saat berada di kawasan tersebut.

Dalam hal ini, PJT II Jatiluhur harus segera melakukan langkah. Jangan sampai, lokasi ini yang tadinya tempat favorit malah terlihat menjadi kumuh.

“Satu lagi yang jadi keluhan, mengenai harga tiket. Per orang Rp25 ribu, ini belum termasuk parkir mobil di dalam. Jadi, dengan tiket semahal itu tidak sebanding dengan kenyamanannya,” kata Animar.

Sementara itu, dihubungi, pihak PJT II Jatiluhur belum satu pun yang bisa dimintai keterangan terkait keluhan pengunjung ini. Bahkan, pesan singkat yang dilayangkan awak media belum mendapat respon apapun.(dik)