Cerita Pepen Soal Ketimpangan di Balik TPA Sampah Bantar Gebang

Foto : Ketua DPD Partai Golkar Jawa Barat Dedi Mulyadi berdialog dengan salah seorang warga sekitaran TPA Sampah Bantar Gebang.

BEKASI, headlinejabar.com

Rangkaian acara pelantikan pengurus DPD Golkar Kota Bekasi terbilang sederhana, ditutup dengan kunjungan ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah Bantar Gebang. Kondisi tempat yang menerima sampah rumah tangga dari DKI Jakarta tersebut terlihat sangat kontras dengan kondisi pusat Kota Bekasi yang saat ini sudah menjadi salah satu destinasi kaum urban.

Ketua DPD Golkar Bekasi Dr Rahmat Effendy (Bang Pepen) menceritakan, setiap hari TPA yang berada dalam wilayah administratifnya sebagai Walikota Bekasi, dapat menerima sekitar 1.700 ton sampah setiap hari dari Kota Bekasi dan 7.000 ton sampah dari DKI Jakarta.

Dia mengaku, pihaknya sedang memperjuangkan tambahan kontribusi kepada Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dari Rp130 ribu per meter kubik sampah menjadi Rp200 ribu per meter kubik sampah.

“Kalau bantuan langsung kan ada Rp200 miliar per tahun. Rutin kita terima. Tetapi ini kan harus juga ada kontribusi yang layak bagi warga sekitar Bantar Gerbang. Tahun ini kita perjuangkan agar tahun depan nilai kontribusinya bisa meningkat,” jelas Pepen di sela pelantikan partainya, Rabu (28/9/2016).

Baca Juga : Golkar Bekasi Dilantik di Kandang Kambing TPA Bantar Gebang

Pepen menjelaskan perihal alokasi dana kontribusi yang dia maksud. Dana tersebut menurut dia memiliki nilai penting karena digunakan oleh warga sekitar Bantar Gebang untuk pembangunan infrastruktur jalan, rumah tidak layak huni, pelayanan kesehatan hingga pendidikan.

“Di sini ada sekitar 2.700 rumah tidak layak huni, seperti rumah Pak Naim tadi. Fasilitas jalan, pendidikan dan kesehatan itu dari sana berasalnya,” pungkas Pepen.

Ketua DPD Partai Golkar Jawa Barat Dedi Mulyadi mengatakan, identifikasi masalah sosial dapat dilakukan oleh Partai Golkar ketika partai mampu mengubah paradigma elitis menjadi lebih dekat kepada masyarakat.

Khusus soal Bantar Gebang ini dia menilai, pengorbanan dan kontribusi masyarakat sekiat Bantar Gebang sudah selayaknya ditebus dengan penyediaan fasilitas publik yang layak di sekitar wilayah itu.

“Jakarta hari ini bisa kinclong karena kekumuhan yang ada di Bantar Gebang. Ya, wajar dong kalau warga Bantar Gebang juga ingin kinclong, jalannya ingin kinclong, seluruh piranti untuk kehidupan mereka pun harus kinclong,” tegas Dedi.

Melalui Bang Pepen, kader Golkar sekaligus Walikota Bekasi, Dedi mengaku akan terus memantau keadaan masyaratak Bantar Gebang. Apalagi bupati yang selalu mengenakan pakaian khas Sunda tersebut terbilang akrab dengan Gubernur DKI Jakarta Ahok. Dedi juga mengaku akan terus menjalin komunikasi dengan gubernur yang saat ini kembali mencalonkan diri dalam perhelatan Pilkada Jakarta tahun 2017 mendatang tersebut.(*)

Editor : Dicky Zulkifly