Bernyanyi Tak Cukup Hanya Sekedar Enak Nadanya

Foto Vokalis Emka 9, Eca Ema

ANDA tentu tidak akan asing lagi dengan juru kawih atau vokalis Emka 9. Grup band bentukan Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi ini, sering manggung dalam setiap acara yang dihelat Pemkab Purwakarta.

Demikian, Grup Band Emka 9 setia menemani resepsi safari budaya Bupati Dedi di beberapa wilayah di Jawa Barat. Beberapa lagu yang sempat menjadi tren mulai Dangding, Tangga Cinta, Lampah, Gelisah sampai Wangsit Siliwangi dilantunkan begitu mendalam.

Namun, tidak semuanya mengenal lebih dekat siapa pemilik sjara merdu yang merepresentasikan setiap lagu hasil karya Bupati Dedi ini. Adalah Eca Ema. Eca merupakan perempuan yang lahir pada 14 April 1984 di Cianjur.

Rupanya tak semudah yang kebanyakan orang lihat saat menyanyikan satu demi satu lagi yang diciptakan oleh Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi. 

Menurut Eca, sapaan alumnus SMAN 1 Cipanas ini, jika menyanyikan lagu tak cukup hanya sekedar enak nadanya. Tetapi harus tahu unsur filosofis dan seni mendalam pada sebuah lagu.

“Meski saya sudah hobi menyanyi sejak umur 6 tahun, tapi hobi nyanyinya bukan lagu-lagu yang saya bawain sekarang. Dulu saya suka lagu pop sampai barat. Di Emka 9 saya belajar memahami kesenian, kebudayaan, sejarah dan bahasa Sunda. Karena kebanyakan lagu-lagu yang saya nyanyikan seputar kesundaan,” kata Eca.

Seperti diketahui, lagu Dangding yang memang menjadi kojo Emka 9 bahkan digemari penikmat musik, secara keseluruhan dari lagu itu menceritakan perjalanan Rasulullah SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa dan dilanjutkan perjalanan menuju langit ke tujuh ke Sidratulmuntaha. Atau dikenal peristiwa Isra Mi’raj.

Eca sebelumnya tidak memahami betul istilah kesenian Sunda. Akan tetapi karena bakat menyanyinya sudah muncul sejak kecil, hal itu membawanya bergabung dengan Emka 9. Dan, sekarang lebih dari 70 lagu ciptaan Bupati Dedi, ia nyanyikan dengan fasih.

“Saya disuruh gabung dengan Emka 9 langsung oleh pak bupati. Saya belajar, dan Alhamdulillah sekarang bisa bernyanyi,” ulas Eca.

Ist. Eca Ema saat Perfom Membawakan Lagu dalam Acara yang Digelar Salah Satu Stasiun Swasta Indonesia

Eca beranggapan, untuk memahami sebuah seni tak perlu berpikiran subjektif. Karena ketika sudah digemari dan ikut menjadi bagian, hal itu akan terasa beda.

“Saya juga sebelumnya nggak tahu apa budaya sunda itu, dan isinya seperti apa. Saya ingin mengajak semua kelompok muda-mudi mengetahui lebih dalam tentang budaya,” akunya.

Untuk bernyanyi memang membutuhkan penghayatan dan kemampuan menguasai setiap bait lirik lagu. Tetapi hal tersebut akan menjadi mudah, ketika siapa saja membuka diri dan mencoba untuk bisa.

“Dan saya berpir, dalam berkarya tidak boleh habis sampai di sini sajah. Kalau bisa, seni budaya Sunda itu jadi tren. Jangan sampai ketika kita bicara kesenian dan kebudayaan sunda, menjadi hal yang tabu,” ungkapnya.(dzi)