Kejayaan Purwakarta di Balik Makna Syair Tokoh Sunda

Foto : Taman Pancawarna Setda Purwakarta. Sumber, foto sampul Fanspage Facebook Bupati Puwakarta Kang Dedi Mulyadi postingan 22 Juni 2015

“Ulah waka make Udeng mun hirup teu hidéng, ulah waka make Sorban lamun make panas baran, ulah waka make jubah mun hirup can balabah. Kabengket ku nu diiket, kapélét ku nu dikamprét. Kajaring ku nu disamping, nyariosna meni nyaring”.

“Jangan dulu pakai sorban pengikat kepala kalau hidup belum mengerti, jangan dulu pakai sorban kalau masih panasan, jangan dulu pakai jubah kalau hidup belum dermawan. Terikat oleh yang memakai ikat kepala, kepelet oleh yang memakai kampret, terjaring oleh yang disamping bicaranya sangat nyaring”.

Syair sunda ini terngiang dalam perbincangan headlinejabar.com dengan salah seorang Tokoh Budayawan Sunda di Kabupaten Purwakarta, Bah Ipit. Dengan penuh penghayatan, Bah Ipit mengiaskan makna dari syair peribahasa Sunda tersebut.

Dalam beberapa pemaknaan kata syair tersebut, sesepuh berusia paruh baya ini menggambarkan pesan untuk para generasi penerus.  Sunda yang dikenal dengan karakter dan kultur lemah lembut, melalui konsepsi bersikap kesiliwangian silih asah, silih asih, silih asuh. Artinya, orang Sunda diyakini memiliki kepribadian murni ihwal kerendahan hati dan toleransi yang tinggi.

Semisal dalam ucapan Ulah waka make Udeng mun hirup teu hideng (Jangan dulu pakai sorban pengikat kepala kalau hidup belum mengerti). Dimana, dimaknakan jangan menggunakan sorban pengikat kepala kalau masih belum banyak memahami tentang agama. Sebab, sebuah pemikiran diperuntukkan bagi kemanfaatan orang banyak. Filosofi ini memandang, Sunda tidak mengajarkan pada sisi penampilan ragawi semata, tanpa kualitas akal batiniyah.

Foto : Keindahan Situ Buled yang terkenal dengan air mancurnya, diklaim sebagai air mancur terbesar se-Asia Tenggara, Sumber : istimewa

Adapun makna Ulah waka make Sorban lamun make panas baran (jangan dulu pakai sorban kalau masih memiliki rasa iri). Sorban di kalangan masyarakat modern saat ini, dipandang sebagai benda yang erat dengan nilai derajat kealiman seseorang. Di kalangan masyarakat Sunda modern saat ini, sorban dapat ditemui oleh pemakai dari latar belakang kyai, ustad atau pemuka agama. Dan, rasa iri itu biasanya muncul ketika merasa bersaing dan tersaingi.

Orang biasa sekelas petani, jarang ditemukan memakai sorban dengan alasan nilai struktur sosial. Dalam pemaknaan ini, pendahulu Sunda menegaskan jika tingkat kemuliaan seseorang tidak dipandang dari segi penampilan.

Ulah waka make jubah mun hirup can balabah (jangan dulu pakai jubah kalau hidup belum dermawan). Kalimat ini lebih pada panduan hidup bersosial, kedermawanan orang Sunda harus didahulukan ketimbang gaya hidup. Jubah saat ini disimbolkan sebagai makna kekuatan dan kejayaan.

Kabengket ku nu diiket, kapélét ku nu dikamprét (Terikat oleh yang memakai ikat kepala, kepelet oleh yang memakai kampret). Dalam kalimat sebelumnya, leluhur Sunda memesankan Ulah waka maké Udeng mun hirup teu hideng (Jangan dulu pakai sorban pengikat kepala kalau hidup belum mengerti). Dimaknakan, ikat di sini merupakan ikat khas yang dipakai oleh orang pemuka agama. Tetapi pada alasan karakter cara berpikir dan perilaku orang yang memakai ikat tersebut.

Pada kalimat terakhir, Kajaring ku nu disamping, nyariosna meuni nyaring (terjaring oleh yang menggunakan kain sarung dan bicaranya sangat nyaring). Nyaring di sini, rupanya kata-kata berisi, yang disampaikan hasil pemikiran bersih (hasil saringan).

“Filosofis silih asah, silih asih, silih asuh sebagaiana yang diajarkan Prabu Siliwangi, orang Sunda memiliki karakter budaya saling mengingatkan, menyayangi dan memberi manfaat. Sunda harum karena keharuman nilai Sunda itu sendiri,” papar Bah Ipit, dalam obrolan di Kantor Redaksi headlinejabar.com, Kamis (28/1/2016) malam.

Ditarik pada kenyataan di Kabupaten Purwakarta, daerah yang dibangun dengan konsep kearifan lokal kesundaan. Bah Ipit memandang, sosok pemimpin di Purwakarta, berhasil membuka rahasia kejayaan Sunda yang nyaris terkubur selama ratusan tahun dalam sejarah.

“Gelar dan julukan si “Cepot jadi Raja”, dan Si “Raja Syirik” serta dituduh menikahi Nyai Roro Kidul sebagai ujian sejauh mana pemimpin Sunda bertahan dengan ideologi dasarnya,” lanjut Bah Ipit, dengan suara berat.

Foto : Gapura Indung Rahayu, simbol kota Purwakarta

Dalam pandangannya, Bah Ipit menilai si “Cépot jadi Raja” adalah jawaban dari orang yang tidak suka terhadap pemimpin Sunda yang berupaya menggali nilai hakikat kesundaan. Bah Ipit berbicara, sejak lima kali ganti bupati, baru sekarang di era kepemimpinan Dedi Mulyadi (Bupati Purwakarta dua periode 2008-2013 dan 2013-2018) melakukan perubahan total.

“Jika tidak ada UU yang mengatur masa jabatan, dimungkinkan beliau akan terpilih kembali. Kendati dalam masa pembangunannya menuai pro dan kontra tetapi Bupati Purwakarta saat ini, orang Sunda menjelma jadi bupati pembangunan,” ulas dia.

Banyak bukti yang telah ditunjukkan. Di antaranya pembangunan dan kepedulian sosial yang telah dilakukan oleh putera Sunda Dedi Mulyadi pada masa kepemimpinannya. “Tutur bahasa yang selalu dikeluarkan oleh beliau dengan warga sangat menunjukan kedekatan dengan masyarakat,” katanya.

Dalam melestarikan kebudayaan Sunda, Bupati Dedi dinilainya sangat bagus. Bah Ipit menyebut lamun laku lampah urang hade bakal loba anu mikaresep (kalau tingkah laku kita baik akan banyak yang menyukai). Sebagaimana malati asih ka diri gapura mapag harepan (melati adalah wewangian atau kembang, simbol kecintaan pada diri dan gapura menyambut harapan)

“Karena sebagaimana amanat, orang Sunda rengkuh mayunan tamu, soméah mayunan semah, leuleus jeujeur liat tali, laér aisan, welasan asihan deudeuhan,” tutup dia.(red)